Ada berapa banyak film action asal Indonesia? Mungkin tidak banyak, dan yang jelas tidak sebanyak film horor-seks-komedi kelas "A" (Ancur) yang beredar di bioskop-bioskop tanah air dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Film action lokal yang memiliki kualitas bagus pun rasanya hanya bisa dihitung dengan jari tangan saja, seperti Kala (2007), Merah Putih (2009), Merantau (2009), Darah Garuda (2010). Namun kali ini, sebuah film aksi-laga terbaru (dan terbrutal) yang pernah dibuat di Indonesia akan memberikan warna baru dan mengguncang dunia perfilman Indonesia, The Raid (Serbuan Maut).

Jauh di dalam kawasan kumuh sebuah kota metropolitan, berdiri sebuah gedung apartemen lusuh yang menjadi tempat kediaman seorang gembong narkoba dan gangster yang paling berbahaya di seluruh penjuru kota. Sampai saat ini, apartemen tersebut dikenal tidak tersentuh, baik oleh satuan polisi ataupun rival gangster. Diselimuti oleh kegelapan dini hari, satuan polisi elite yang dipimpin oleh Sersan Jaka (Joe Taslim) bertugas untuk menyerbu apartemen tersebut untuk menangkap dan melumpuhkan gembong narkoba tersebut, Tama (Ray Sahetapy). Seorang polisi muda minim pengalaman, Rama (Iko Uwais), terlibat dalam penyerbuan tersebut dengan misi pribadinya. Namun ketika keberadaan mereka diketahui dan berita tentang penyerbuan mereka sampai ke telinga Tama, listrik dimatikan dan semua jalan keluar ditutup. Tama pun mengirim dua anak buah terbaiknya, Andi (Donny Alamsyah) dan Mad Dog (Yayan Ruhiyan) untuk menggagalkan penyerbuan tersebut dan membunuh semua polisi yang ditemuinya. Terjebak di lantai 6 dan tidak ada jalan keluar, Jaka dan kawan-kawan harus bertahan hidup dan terus bertarung untuk menyelesaikan misi mereka.

Ketika ending credit film ini bergulir, hiruk pikuk penonton yang bertepuk tangan dan memberikan apresiasi pun tak kuasa bergema di dalam Audi 1 Blitzmegaplex Grand Indonesia, bahkan sebagian kecil penonton memberikan standing ovation. Film yang baru pulang kampung setelah mendapat berbagai respon positif di dunia internasional ini memang baru diputar perdana di tanah air pada hari Minggu, 21 November 2011 kemarin. Rasanya, sutradara/penulis asal Wales Gareth Evans yang berada di balik layar film ini dapat bernafas lega ketika sekitar 500 penonton pertama di Indonesia pada malam pemutaran perdana tersebut memberikan apresiasi tertinggi untuk karya film panjang ketiganya. Bahkan sebelum pemutaran, festival director INAFFF 2011, Rusli Eddy, sempat berseloroh bahwa film pertama Evans (Footsteps, 2006) yang ditayangkan dalam INAFFF 2007 hanya dihadiri tidak lebih dari 20 orang. Namun kali ini, antusiasme pencinta film di tanah air membludak untuk mengantisipasi film ini, bahkan tiket penjualan langsung terjual habis kurang dari 10 menit ketika loket penjualan dibuka beberapa minggu lalu.

baca selengkapnya...

Film horor dengan setting rumah tua yang berhantu memang menjadi langganan para pembuat film horor. Terlalu banyak film horor yang menggunakan rumah tua berhantu menjadi panggung utama dengan plot yang berbeda-beda. Namun kali ini, duet penulis asal Perancis, Alexandre Bustillo - Julien Maury yang pernah menelurkan film slasher realistis, Inside (2007), menawarkan film horor fantasi terbaru mereka dengan Livid (Livide).

Ini adalah hari pertama bagi Lucy, caregiver muda yang melakukan kunjungan ke rumah-rumah orang tua yang membutuhkan perawatan khusus. Bersama mentornya, Lucy mengunjungi rumah terakhir pada pelatihan hari itu - rumah tua dan besar milik Mrs. Jessel. Mengetahui bahwa Mrs. Jessel memiliki harta karun tersembunyi di suatu tempat di dalam rumah besarnya, Lucy dan kawan-kawan memutuskan untuk memasuki rumah itu di malam hari dengan harapan untuk menjadi kaya. Namun pencarian harta karun mereka dalam rumah Mrs. Jessel malah membuat mereka mengalami berbagai pengalaman supranatural yang aneh dan mengerikan, dan akan membuat hidup Lucy berubah untuk selamanya.

Diantara film-film horor yang sudah lebih dulu mengambil setting haunted-house, Bustillo-Maury ternyata mengemas film panjang kedua mereka dengan cara mereka sendiri dan memiliki rasa Perancis yang nikmat. Tidak hanya sederetan adegan seram yang mengejutkan penonton, Bustillo-Maury juga memberikan unsur drama yang kental dan signifikan dalam jalan cerita. Ditambah lagi, dimasukkannya unsur fantasi dan supranatural di setengah akhir dari film yang membuat film ini menjadi menonjol diantara film-film sejenis. Semua itu dikemas dengan visual dan sinematografi yang cantik menawan, yang serta merta membawa pengalaman sinematik yang memuaskan.

baca selengkapnya...

Homo homini lupus. Relevansi frase Latin ini tampaknya tidak lekang oleh waktu dan tempat. Kebanyakan film horror/thriller/slasher pun cukup menggambarkan frase tua ini dengan tokoh antagonis yang telah diplot sejak awal. Namun sinema Israel yang sedang bangkit mencoba mengekstensi frase ini dengan lebih ekstrim lewat film thriller/slasher pertama dari negara tersebut, Rabies (Kalevet).

Kakak beradik yang sedang melarikan diri dari rumah, terjebak di sebuah hutan ketika sang adik terperangkap oleh jebakan seorang pembunuh psikopat. Sang kakak pun berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan sang adik. Usaha penyelamatan sang adik pun secara tidak sengaja melibatkan hidup dari sekelompok pemain tenis, penjaga hutan dan anjingnya, serta satu tim polisi.

Cerdas. Setidaknya satu kata itu yang ada dalam kepala gue ketika ending credit mulai berguling dan lampu auditorium dinyalakan. Ini adalah pengalaman kedua gue dalam menonton film asal Israel, dan film ini masih tetap menjaga citra baik sinema Israel di mata gue. Boleh jadi ini adalah film horror/thriller/slasher pertama dari negara tersebut, tetapi duet sutradara/penulis Aharon Keshales dan Navot Papushado telah memberikan yang terbaik. Dengan plot yang cerdas, thriller yang konsisten memberikan ketegangan, serta humor satire yang mewarnai, film ini berhasil membuat sebuah film horror/thriller/slasher dengan rasa baru dan unik.

baca selengkapnya...

Fantastic Indonesian Short Film Festival (FISFiC) adalah kompetisi film pendek yang fokus pada genre horor, thriller, fiksi ilmah, dan fantasi. Diprakarsai oleh Joko Anwar, The Mo Brothers, Gareth Evans, Lala Timothy, Ekky Imanjaya, dan Rusli Eddy, kompetisi ini dimulai dengan workshop untuk 25 tim terpilih dengan sinopsis terbaik. Enam finalis telah dipilih dan masing-masing menerima dana sebesar 10 juta rupiah untuk memproduksi sebuah film pendek. Satu film pendek akan dipilih menjadi pemenang, tim yang menang pun akan memproduksi film pendek baru untuk omnibus film pendek fantastik yang akan disutradarai oleh Joko Anwar, Mo Brothers, dan Gareth Evans dan diproduseri oleh Likelike Pictures, untuk dirilis di bioskop pada tahun 2012. Berikut adalah ke-enam finalis film pendek karya anak bangsa yang disatukan dalam satu film omnibus.


baca selengkapnya...

Sudah menjadi hal yang biasa bagi para musisi untuk membuat album yang berkonsep. Mungkin masih jelas di ingatan ketika Coldplay membuat concept album Viva la Vida or Death and All His Friends dengan berkonsep revolusi. Concept album ini terlihat dari cover album, kostum anggota band selama konser, dan tentu saja terdengar dari setiap track yang ada. Sejatinya, sebuah concept album bermula dari satu ide cerita yang ada. Nah bagaimana jika ide cerita ini diekstensi dan ditransformasikan menjadi sebuah film? Rasanya baru band Angels & Airwaves saja yang bisa dan berani melakukan hal tersebut dengan film yang diproduksinya; Love.

Film ini fokus pada dua cerita yang terjadi dengan rentang waktu beberapa abad namun saling pararel secara filosofis satu dengan yang lain. Cerita seorang pejuang yang dikirim ke daerah barat untuk menemukan suatu hal yang luar biasa di jaman Perang Saudara AS. Sementara beberapa abad kemudian, seorang astronot yang hidup dan bekerja sendiri di International Space Station tiba-tiba kehilangan kontak dengan bumi. Harus menghabiskan sisa waktu hanya seorang diri, astronot tersebut mulai menemukan hal baru mengenai pesawatnya, mengenai dirinya sendiri, dan juga eksistensi manusia.

Premis isolasi ekstrim bagi seorang manusia, baik di bumi atau di luar angkasa, mungkin bukan suatu hal yang baru di dunia perfilman. Lapis pertama bagi film-film semacam ini tentunya adalah efek psikologis dari si karakter dalam menghadapi kesendiriannya. Namun sutradara/penulis naskah William Eubank yang memulai debutnya lewat film ini menambahkan lapisan baru menurut sudut pandangnya. Berhubung film ini adalah transformasi dari concept album dari AvA, maka Eubank menambahkan pentingnya interaksi antar-manusia dan cinta, yang disadari lewat isolasi ekstrim tersebut. Kemudian pada lapisan terbawah dan terdalam, Eubank menambahkan hal betapa rapuhnya eksistensi manusia secara fisik, kemudian mengusulkan bahwa betapa pentingnya cerita dan memori dari manusia sebagai harta warisan manusia. Semua ide ini dirangkum dan divisualisasikan dengan sangat cantik, dan pastinya diiringi oleh scoring dari album AvA, Love (2010) secara instrumental.

baca selengkapnya...

Adat istiadat memang tidak pandang bulu. Apalagi jika adat istiadat yang sedianya berlangsung secara turun-temurun tersebut ada di sebuah desa pedalaman di Indonesia tahun 1960-an. Kemiskinan dan gagal panen yang melanda desa kecil tersebut pun semakin menjustifikasi warga desa untuk bersandar pada hal-hal supranatural. Dengan kepercayaan animisme dan nilai tradisional yang kuat, warga pun rela meninggalkan logika demi memuja sang adat dan tradisi. Situasi menjadi semakin kompleks ketika modernitas yang datang dengan deras menyerbu nilai tradisional. Para pelaku adat pun segera membangun tembok setinggi mungkin, dengan dalih pribadinya telah menyatu dengan adat. Lalu bagaimana dinamikanya? Kira-kira ini yang ingin diangkat oleh sutradara Ifa Isfansyah dalam film terbarunya, Sang Penari.

Di dukuh (desa) Paruk tahun 1960-an, hiduplah sepasang sahabat yang tumbuh bersama; Rasus (Nyoman Oka Antara) dan Srintil (Prisia Nasution). Dalam perkembangannya, ternyata mereka saling menyimpan perasaan terhadap satu sama lain. Tetapi percintaan mereka terhalang oleh kemampuan Srintil menari. Warga desa pun percaya bahwa Srintil adalah titisan ronggeng (penari desa), dimana tidak semua orang bisa menjadi ronggeng. Dukuh Paruk yang terus menerus gagal panen memang sedang membutuhkan seorang ronggeng untuk memberi warna dan semangat bagi warga desa yang mulai putus asa. Namun untuk menjadi seorang ronggeng dukuh, Srintil - dan tubuhnya - akan menjadi milik warga desa. Rasus yang mengetahui tradisi tersebut tidak terima jika Srintil bagaikan "pohon kelapa yang seenaknya dipanjat berbagai orang". Dalam keputusasaan, Rasus pun meninggalkan Dukuh Paruk untuk menjadi seorang tentara. Jaman bergerak, politik tahun 1965 pun bergejolak. Saat-saat dimana Rasus dan Srintil harus memilih untuk loyal pada aset sosial atau mengikuti perasaan masing-masing pun tiba. Sadar tidak ada jalan tengah dari dilema tersebut, mereka pun harus memilih salah satunya.

Menurut istilah yang digunakan oleh pembuat film, cerita dalam film ini "terinspirasi" dari novel trilogi karya Ahmad Tohari; Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus di Dini Hari (1984), dan Jentera Bianglala (1985). Sekarang, trilogi novel tersebut telah digabungkan menjadi satu buku dengan judul "Ronggeng Dukuh Paruk" dengan menyertakan detil-detil cerita yang telah disensor selama lebih dari 20 tahun. Ya, di masanya novel ini dikategorikan sebagai karya sastra yang kontroversial. Selain karena dibilang terlalu vulgar dan seronok, Ahmad Tohari juga berani menyinggung gejolak politik Indonesia tahun 1965. Meskipun dengan dibuatnya film ini merupakan sebuah resiko tersendiri bagi produser Shanty Harmayn, yang juga ikut menulis naskah dari film ini. Kembali ke inspirasi, trio penulis naskah yang juga menggodok Garuda di Dadaku (2009), Ifa-Shanty-Salman Aristo tidak terlalu setia pada novelnya. Garis besar cerita memang mengikuti cerita arahan Ahmad Tohari, namun trio penulis ini mengubah beberapa detil cerita. Toh perubahan ini tidak sedemikian signifikannya, selama makna dan maksud dari penulis novel masih pararel dengan pembuat film.

baca selengkapnya...

Cerita yang mengangkat bagaimana manusia terpencil di suatu tempat kemudian diberi suatu konflik memang selalu menarik untuk disimak. Biasanya cerita semacam itu mengandalkan dinamika psikologis dari karakter yang terlibat sebagai kekuatan utama. Kali ini sutradara/penulis naskah pendatang baru, Carl Tibbetts, mencoba menyumbangkan ide ceritanya ke dalam deretan film-film tersebut dengan film debutannya, Retreat.

Sebagai usaha terakhir untuk menyelamatkan pernikahan mereka, Kate (Thandie Newton) dan Martin (Cillian Murphy) mengasingkan diri dari kota London dan berlibur ke pulau terpencil dan tidak berpenghuni di sisi barat Skotlandia, Pulau Blackholme. Hari-hari pertama mereka disibukkan oleh generator dan radio panggil yang tidak berfungsi. Tidak ada listrik dan hilang komunikasi dengan dunia luar malah menambah ketegangan diantara hubungan mereka yang sedianya telah rapuh. Sampai pada akhirnya mereka menemukan seorang prajurit yang terluka dan merawatnya. Tersadarnya Jack (Jamie Bell) - prajurit tersebut - ternyata malah membawa kabar buruk bagi Kate dan Martin. Menurut Jack, telah terjadi wabah virus mematikan yang menyebar lewat udara di luar sana, dan Jack pun datang ke pulau itu untuk berlindung. Kepercayaan Kate dan Martin pun diuji dengan kabar yang dibawa oleh Jack, sampai ketegangan memuncak ketika Jack mulai membuat ulah.

Ketika ada sekelompok orang yang terjebak di satu tempat, kemudian ditambahkan masalah, maka yang bermain dalam segi cerita adalah sisi psikologis. Benar saja, selama 90 menit penonton akan disajikan adu psikologis dari ketiga karakter yang memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Seorang suami yang mudah ikut arus, seorang istri yang skeptis dan keras kepala, dan seorang prajurit yang misterius dan manipulatif. Dengan deretan pemeran yang ada, praktis adu psikologis ini dapat tersampaikan dengan baik lewat penampilan trio Newton-Murphy-Bell yang baik. Namun sutradara/penulis naskah Carl Tibbetts tampak terlalu berusaha keras untuk memberikan ketegangan yang signifikan. Dengan dasar cerita yang terbilang lemah, praktis thriller yang ada hanya mengandalkan gaya pengambilan shot adegan dan scoring.

baca selengkapnya...

Kisah seorang yang biasa lalu memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan bertopeng tanpa kemampuan bertarung dan peralatan canggih kini tidak lagi menjadi premis yang baru, apalagi dengan kemunculan Kick-Ass (2010). Kini sebuah film baru karya pencipta Slither (2006) hadir untuk meramaikan dan menambah daftar film-film superhero without superpower dengan SUPER..

Frank Darbo (Rainn Wilson) adalah seorang pria bahagia yang menikah dengan istri yang cantik, Sarah (Liv Tyler). Namun kebahagiaannya segera berakhir ketika istrinya "dicuri" oleh bandar narkoba, Jock (Kevin Bacon). Setelah mendapatkan wahyu relijius, Frank pun memutuskan untuk menjadi seorang pahlawan bertopeng yang membasmi para kriminal jalanan dengan menjadi Crimson Bolt. Dibantu oleh pencinta komik, Libby (Ellen Page) yang kemudian menjadi Boltie sebagai sidekick dari Crimson Bolt, mereka berdua pun mencoba untuk merebut kembali Sarah dari tangan keji Jock.

Dari garis besar cerita yang ditawarkan, serta dari trailer yang lucu dan menarik akan membuat anda berpikir bahwa film ini adalah "another US flick comedy" yang ringan dan menghibur. Lalu mengapa film ini masuk dalam jajaran film-film fantastis INAFFF 2011? Ah, pertanyaan ini lebih baik dijawab oleh anda sendiri ketika menonton film ini sampai ending credit muncul di layar. Yang jelas, kemasan film ini akan membuat penontonnya terbelalak kaget dan terkejut, bahkan sibuk jejeritan entah karena tertawa atau jijik.

baca selengkapnya...

Kisah romansa antara pria dan wanita telah berulang kali difilmkan dengan berbagai cara dan berbagai gaya. Alih-alih film yang memakan biaya produksi besar dan berasal dari label ternama, rasanya malah film-film independen yang lebih banyak diingat oleh publik. Di tahun 2009, banyak yang dibuat takjub oleh (500) Days of Summer dengan gaya penceritaan yang tidak biasa dan cerita yang sangat akrab oleh para pria. Di tahun 2010, Michelle Williams dan Ryan Gosling menetapkan standar baru untuk berakting dalam film romance/break-up lewat Blue Valentine. Di tahun 2011 ini, genre romance keluaran label indie dengan budget rendah akan ketambahan satu film karya produser/sutradara/penulis naskah/aktor debutan Evan Glodell. Kisah romansa, flamethrower, muscle car, dan kiamat; semua ini ada dalam film Bellflower.

Dua sahabat karib menggunakan seluruh waktu bebas mereka untuk membuat barang-barang yang mereka anggap keren. Terinspirasi oleh film Mad Max, mereka membuat senjata pelontar api dan mobil keren untuk bersiap-siap jika kiamat global datang. Disaat menunggu dunia kiamat, salah satu dari mereka bertemu seorang gadis dan jatuh cinta. Terbuka dengan teman-teman dan orang-orang baru, mereka pun mulai menjalani hidup yang penuh dengan pengkhianatan, cinta, kebencian, dan ketidaksetiaan yang (ternyata) lebih menghancurkan ketimbang khayalan kiamat mereka.

Rasanya tidak ada sutradara film yang lebih nyentrik dan kacau daripada Evan Glodell. Evan menulis naskah cerita film ini sejak tahun 2003, dimana cerita tersebut terinspirasi dari kisah cinta pribadinya, lalu membuat dengan total budget sekitar 17 ribu USD, sambil menghindari kejaran polisi karena tindak perdata yang ia langgar. Banyak terpengaruh oleh film Mad Max 2 (1981), kekagumannya pada kiamat, serta obsesinya membuat pelontar api di masa kecil pun tidak tanggung-tanggung untuk dibawa serta untuk masuk ke dalam debut filmmya. Dihiasi oleh visual yang bergaya apocalyptic dan camera work yang stylish, film ini siap membuat penonton melakukan perjalanan panjang dengan mobil keren pelontar api yang melewati berbagai belokan yang tidak terduga.

baca selengkapnya...

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas bumi harus dihapuskan. Orang Indonesia mana sih yang tidak ingat sepotong kalimat dari Preambule UUD 1945 itu? Rasanya memang potongan kalimat ini dapat diekstensi ke ruang dan waktu yang berbeda. Mari kita terbang ke Eropa tengah, ke satu negara yang tidak memiliki laut dan berbatasan dengan 7 negara di segala sisinya; Hongaria. Pada tanggal 23 Oktober 1956, sebuah revolusi untuk mengusir Uni Soviet dan paham komunisnya dari tanah Hongaria meletus di ibu kota Budapest. Bersamaan dengan revolusi tersebut, tim polo air Hongaria yang merupakan juara bertahan Olimpiade, merepresentasikan perjuangan revolusi di Budapest dengan bertanding untuk merebut medali emas Olimpiade di Melbourne. Semua itu digambarkan dalam film keluaran tahun 2006, Children of Glory (Judul asli: Szabadsag, Szerelem - Freedom, Love).

Kisah nyata revolusi Hongaria tahun 1956 ini dibawakan lewat sudut pandang dua orang karakter fiktif; Szabo dan Viki. Szabo adalah atlet timnas polo air sekaligus tulang punggung tim, sedangkan Viki adalah aktivis mahasiswa yang berjuang keras mengusir Uni Soviet dan paham komunis lewat berbagai demonstrasi di Budapest. Mereka berdua bertemu dalam salah satu orasi di sebuah universitas yang berujung pada demonstrasi besar yang berpusat di patung Jozef Bem (pahlawan nasional Hongaria dan Polandia). Percintaan Szabo dan Viki pun pelan-pelan tumbuh di tengah pergolakan revolusi yang diwarnai oleh peluru dan darah. Saat puncak pun tiba ketika mereka berdua harus berjuang dengan perjuangannya masing-masing; Viki yang melawan polisi rahasia Hongaria serta tank-tank Uni Soviet, dan Szabo beserta teman-teman timnas melawan timnas Uni Soviet di semi-final Olimpiade Melbourne 1956. Terekam dalam sejarah, pertandingan semi-final Olimpiade Melbourne itu dikenal sebagai "Blood in the Water Match".

Ketidaktahuan akan sejarah dan pengetahuan umum seputar negara Hongaria, ternyata tidak mengecilkan kenikmatan untuk menyaksikan film perjuangan ini. Sabar dan perhatian pada setiap dialog serta peka terhadap detil adegan di layar, akan membuat penonton secara perlahan mengenal lebih dekat negara Hongaria. Modal pengetahuan akan era Perang Dingin di tahun 1950-an rasanya sudah cukup untuk memahami situasi yang ada. Jika selama ini kita (pihak Non-Blok) hanya melihat Perang Dingin sebagai perseteruan antara dua negara adidaya Amerika Serikat dengan Uni Soviet, maka dalam film ini sedikit menggambarkan pengaruhnya pada negara-negara Eropa Tengah (dan juga Eropa Timur), khususnya negara-negara yang dijajah oleh Uni Soviet. Ya benar, menonton film ini seakan mempelajari sejarah Revolusi 1956 Hongaria, Blood in the Water Match, dan sisi lain dari Perang Dingin hanya dalam waktu 123 menit.

baca selengkapnya...

Figur orang tua selalu menjadi figur yang signifikan bagi setiap orang siapa pun itu, termasuk John Lennon. Ya, dibalik kisah hidupnya yang penuh dengan hingar bingar ketenaran, John Lennon ternyata memiliki masa remaja yang sulit. Ditulis ke dalam layar berdasarkan buku biografi Imagine This: Growing Up With My Brother karya Julia Baird (saudara dari satu ibu lain bapak), film Nowhere Boy memotret tahun-tahun awal dari bintang rock 'n roll dan salah satu pendiri The Beatles.

Film biopic ini menceritakan masa kecil John Lennon, namun lebih fokus pada masa remajanya yang harus dilaluinya dengan sulit. Terusik mencari identitas dirinya lewat siapa orang tua biologisnya, cerita berkembang menjadi bagaimana dinamika hubungan John dengan bibinya Mimi dan ibunya Julia - yang merupakan dua figur wanita dominan dalam hidupnya. Selain itu, film ini juga menggambarkan bagaimana pertemuan John dengan Paul McCartney dan George Harrison, persahabatan mereka, kecintaan mereka pada musik, untuk selanjutnya melahirkan band yang paling sensasional di planet ini.

Mungkin tidak banyak yang tahu bagaimana sejarah The Beatles terbentuk, apalagi bagaimana pribadi John Lennon di masa remajanya. Bagi kebanyakan orang, film drama-biografi mungkin akan terdengar membosankan. Tapi film ini memiliki keunggulan tersendiri; John Lennon! Minimal, penggemar berat The Beatles akan tertarik untuk menonton film ini. Lewat cerita yang tidak diketahui oleh banyak orang ini, sutradara debutan Sam Taylor-Wood berhasil membuat film ini menjadi menarik untuk diikuti. Jalinan cerita yang ada sukses membuat penonton menjadi penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Selama setengah film pertama pun, penonton dibuat bertanya-tanya siapa Julia, atau bagaimana John bisa tinggal dengan bibinya. Adegan revelation pun dieksekusi dengan cukup emosional, untuk kemudian membuat penonton mengelus dada dengan adegan klimaksnya.

baca selengkapnya...

Apa tolok ukur dari kebahagiaan? Apa pula tolok ukur dari normal? Bagaimana jika seseorang menemukan kebahagiaan sendiri, tapi dia tidak termasuk "normal" bagi orang lain dan masyarakat?  Meskipun tidak sedikit orang yang "normal" tetapi tidak bahagia. Film biopic asal Finlandia yang diproduksi tahun 2010 mencoba menggambarkan kaburnya batas-batas antara "kebahagiaan" dengan "normal" itu; Princess (Judul asli: Prinsessa).

Film yang berdasarkan kisah nyata ini bercerita tentang pasien yang terkenal di Rumah Sakit Jiwa Kellokoski di Finlandia, Anna Lappalainen. Di tahun 1933, Anna yang baru masuk di rumah sakit jiwa tersebut menolak dipanggil dengan namanya sendiri dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang "princess". Didiagnosa mengalami manic-depressive dan memiliki gejala schizophrenia, kedatangannya menjadi awal dari perselisihan panjang antara sang princess dengan staf rumah sakit atas identitas dan haknya untuk menentukan kepribadiannya sendiri. Pada akhirnya, Rumah Sakit Jiwa Kellokoski menjadi istana sang putri, dimana Anna membawa kebahagiaan - dan kesembuhan - bagi teman-teman sesama pasien.

Film yang ringan ini sangat menghibur, tentu saja dengan melihat uniknya tingkah laku dari sang putri. Senyum dan tawa pun tidak dapat dihindari melihat bagaimana sang putri mencoba mempertahankan gelar kebangsawanannya di rumah sakit jiwa tersebut. Segala macam label dan diagnosa istilah-istilah kesehatan terhadap apa yang diderita oleh Anna pun seakan dikesampingkan, untuk sekedar melihat dinamika perkembangan dan interaksi antara sang putri dengan orang-orang di sekitarnya.

baca selengkapnya...

Banyak orang bilang, kedewasaan tidak bergantung dari umur. Ketika banyak dewasa yang berperilaku dan memiliki mental seperti anak belasan tahun, maka wajar jika ada seorang anak 12 tahun yang memiliki pemikiran seperti orang dewasa. Bagaimana dengan seorang gadis 9 tahun yang harus tinggal sendirian di rumah selama musim panas? Oh tidak, kali ini tidak akan ada dua perampok bodoh yang mati-matian mencoba untuk masuk ke dalam rumah. Ini hanya cerita seorang gadis 9 tahun yang tinggal di daerah pinggiran di Swedia dalam film The Girl (Judul asli: Flickan).

Pada musim panas tahun 1981, seorang gadis berumur 9 tahun harus tinggal bersama bibinya ketika orang tua dan kakak laki-lakinya pergi ke Afrika sebagai pekerja sosial. Bibinya yang dijemput oleh seorang laki-laki, meninggalkannya dengan janji akan kembali "dalam beberapa hari". Si Gadis pun tidak bilang pada siapa-siapa bahwa sekarang dia benar-benar sendirian di rumah. Selama musim panas, secara perlahan dia mematangkan kemandirian dan kedewasaannya dan menemukan dunia orang dewasa yang absurd dan terkadang kurang perhatian.

Film ini terbilang sangat jujur dan tenang dalam menceritakan kisah sederhana tentang bagaimana si Gadis menghabiskan musim panasnya sendirian di rumah. Dengan caranya sendiri, film ini hanya ingin "mendokumentasikan" hari demi hari yang dilewati oleh si Gadis dalam kesendiriannya di rumah. Memang dia sempat bergaul dengan dua anak tetangga yang lebih tua dan juga seorang bocah laki-laki yang seumuran. Namun pada akhirnya dia kembali dalam kesendiriannya, dan menemukan kebahagiaannya sendiri lewat orang asing yang dibantunya serta keindahan alam sekitar. Lalu film ini berakhir dengan adegan akhir yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh semua penonton, namun adegan akhir itu justru semakin menguatkan perasaan empatik penonton kepada si Gadis ini. Benar saja, film ini "hanyalah" film yang memotret si Gadis secara dekat yang berkeliling mengeksplorasi segala yang ada di sekitar rumahnya di daerah pinggiran di Swedia, yang memberikannya pelajaran betapa absurdnya kehidupan orang-orang yang lebih tua daripadanya.

baca selengkapnya...

Cinta memang tidak mengenal jarak dan waktu. Tapi ternyata upacara pernikahan - yang berdasarkan cinta - mengenal adanya perbedaan adat istiadat. Apalagi ditambah dengan sejarah (kelam) yang ada antara kewarganegaraan kedua mempelai. Mari kita terbang ke Eropa Timur, dimana ada negara Romania dan Moldova yang berbatasan satu sama lain. Kedua negara ini menggunakan bahasa yang sama, tetapi ternyata tidak dengan budaya dan adat istiadat, khususnya dalam upacara pernikahan. Film tahun 2009 asal Romania dan Moldova ini menggambarkan permasalahan yang muncul dengan bumbu humor, Wedding in Basarabia (Judul asli: Nunta in Basarabia).

Vlad dan Vika adalah sepasang kekasih yang telah memutuskan untuk menikah. Berhubung pernikahan yang mereka adakan di Romania tidak dihadiri oleh keluarga Vika, maka mereka pun bersedia untuk mengulangi pernikahan mereka di kampung halaman Vika, di kota Basarabia di negara tetangga Moldova. Masalah perbedaan sempat muncul bagi Vlad yang berkebangsaan Romania yang hanya bisa berbahasa Romania, tidak seperti kebanyakan rakyat Moldova, seperti Vika, yang bisa berbahasa Romania dan Rusia dengan lancar. Di negara bekas okupasi Uni Soviet itu, percintaan antara Vlad dan Vika akan diuji kembali terutama setelah mereka berdua mengalami langsung bagaimana sakit hati generasi diatas mereka tentang masa lalu Romania dan Moldova.

Tadinya gue memiliki kekhawatiran tidak akan bisa menonton film ini dengan nyaman jika tidak mengetahui lebih dulu sejarah antara Romania dengan Moldova. Tetapi ternyata film ini mampu bercerita pada penonton "awam" yang tidak memiliki modal pengetahuan tentang dua negara yang berbatasan tersebut. Dari awal sampai penghujung film, penonton diberikan pengetahuan baru sedikit demi sedikit untuk dapat memahami apa yang sedang terjadi di layar. Pencinta bahasa asing pun tidak perlu sibuk menerka bahasa apa yang sedang digunakan, karena hampir keseluruhan film ini menggunakan bahasa Romania (Moldova juga menggunakan bahasa Romania, tetapi secara politis disebut bahasa Moldova - walaupun bunyi dan penulisannya sama). Hanya sedikit bahasa Rusia yang keluar dalam film ini, dan perbedaannya pun cukup jelas. Mungkin pembuat film sadar betapa beratnya untuk mengangkat tema xenophobia dalam suatu film, lalu mereka membubuhkan unsur humor dalam film ini. Humor yang ada memang berhasil mengangkat film ini menjadi lebih menarik, namun tidak sedikit pula humor-humor satire yang ada dalam film ini.

baca selengkapnya...

Real Steel

"I want you to fight for me!"

Kira-kira seperti itu dialog yang diucapkan oleh Max Kenton kepada ayahnya, Charlie dalam film ini. Sepenggal dialog itu tampaknya cukup menggambarkan keseluruhan cerita dari film terbaru besutan sutradara Shawn Levy. Oh ya, setelah puas menyutradarai film-film komedi (Big Fat Liar, Cheaper by the Dozen, Date Night, Night at the Museum), kali ini Mr. Levy mencoba genre baru; film action rasa keluarga, atau film keluarga rasa action? Seakan ingin menertawakan robot-robot di Transformers, Mr. Levy menempatkan robot-robot canggih di dalam ring tinju untuk bertarung satu sama lain dalam Real Steel.

Di tahun 2020 ketika pertandingan tinju manusia digantikan oleh robot, Charlie Kenton yang seorang mantan petinju mencoba bertahan hidup dengan menjadi promotor tinju. Terlilit hutang, Charlie mempelajari bahwa dia memiliki anak laki-laki berusia 11 tahun, Max. Situasi pun berkembang menjadi bagaimana Max yang memiliki kemauan keras, membantu ayahnya untuk mengikuti berbagai pertandingan dengan robot rongsokan.

Secara mengejutkan, film tentang robot ini ternyata mampu menangkap emosi dengan baik. Jalan ceritanya memang sederhana dan cenderung dapat ditebak kelanjutannya. Namun memang yang penting adalah bukan bagaimana film ini akan berakhir, melainkan bagaimana dinamika hubungan ayah dengan anak antara Charlie dengan Max. Memang ada sekian banyak film yang menggambarkan hubungan ayah-anak yang sulit dan mencoba untuk melakukan rekonsiliasi. Namun yang berbeda dalam film ini adalah karakter ayah dan anak itu sendiri serta perkembangannya, plus ditambah oleh efek motion-capture dari robot-robot petinju ini. Hasilnya adalah sebuah film keluarga dengan kedalaman emosional yang signifikan dan hiburan mata-telinga atas aksi robot-robot ini di atas ring tinju.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Followers