Bagaimana jadinya jika spesies kera diberikan kecerdasan layaknya kecerdasan manusia? Di satu sisi, mungkin mereka dapat membantu kehidupan sehari-hari manusia. Tapi di sisi lain, dengan insting binatang yang kuat dan tambahan kecerdasan, maukah mereka untuk selalu tunduk di bawah dominasi manusia? Perandaian ini dicoba divisualisasikan dalam film Rise of the Planes of the Apes.

Seorang ilmuwan, Will Rodman (James Franco), sedang mengembangkan obat yang bisa menyembuhkan penyakit degenerasi otak seperti Parkinson's atau Alzheimer's. Eksperimen dengan metode terapi genetik (menggunakan virus untuk mengirimkan materi gen baru pada DNA) dilakukan terhadap simpanse. Eksperimen tersebut berbuah hasil positif dengan meningkatnya kecerdasan simpanse. Namun seekor simpanse dengan kecerdasan yang melampaui batas ini memimpin kera-kera lainnya untuk menuju kebebasan.

Film ini adalah prekuel dari film orisinil Planet of the Apes (1968) - bukan dari versi Tim Burton (2001) - yang digadang-gadang sebagai film sci-fi cult classic, ditambah dengan twist ending yang membuat mulut menganga selama beberapa detik. Prekuel ini memang menawarkan beberapa plot cerita baru untuk menutupi kelemahan plot cerita film orisinilnya, termasuk sebab mengapa spesies kera dapat mendominasi manusia di kemudian hari. Kekuatan utama film ini tentu adalah CGI dan motion capture yang sangat halus dan meyakinkan, bisa dibilang yang terbaik semenjak trilogi The Lord of the Rings dan Avatar (2009).

baca selengkapnya...

Seorang pahlawan tidak harus terlahir dari seseorang yang memiliki kesempurnaan fisik tipikal pahlawan; berotot, berbadan besar, ganteng, tinggi, dan lain sebagainya. Peter Parker telah membuktikkan hal itu, walaupun selanjutnya laba-laba mutan menggigitnya dan memberikannya kekuatan super. Bruce Wayne dan Tony Stark memang tidak memiliki kekuatan super apapun, namun ia memiliki uang dan teknologi canggih yang mendukung ia untuk menjadi pahlawan kegelapan. Kini ada Steve Rogers, pemuda kurus ceking pendek namun bersemangat tinggi, yang diubah menjadi "Super Soldier" untuk memerangi kejahatan dalam Captain America: The First Avenger.

Tahun 1942 dimana AS terlibat dalam Perang Dunia II, pemuda sakit-sakitan namun memiliki determinasi tinggi Steve Rogers tidak pernah menyerah untuk bergabung menjadi tentara walapun selalu ditolak. Beruntung dirinya bertemu dengan Dr. Erskine yang merekrutnya untuk proyek rahasia yang menciptakan pasukan super. Dibantu oleh Howard Stark, serum Dr. Erskine berhasil memaksimalkan potensi yang dimiliki oleh Steve Rogers. Keberhasilan serum Dr. Erskine menarik minat Johann Schmidt, pemimpin divisi Hydra yang tergabung dalam tubuh Nazi. Walaupun dengan kemampuan fisik maksimum dari seorang Steve Rogers ternyata belum bisa membuat dia dipercaya oleh militer untuk maju ke medan perang. Akhirnya, determinasi dan keberanian dari Steve Rogers membuktikan bahwa militer memerlukan jasa dan sepak terjang dari identitasnya yang baru; Captain America.

Dengan premis cerita sederhana tipikal film-film superheroes; kejahatan melawan kebaikan, film ini cukup menonjol dengan membawa pesan bahwa alih-alih berasal dan ditampilkan dari fisik, namun sejatinya kekuatan berasal dari dalam diri. Pesan ini dibawakan secara konsisten dari awal hingga akhir film yang diproyeksikan melalui pribadi Steve Rogers, yang sadar bahwa secara fisik dirinya bukan apa-apa dibandingkan dengan orang-orang yang telah menjadi tentara, namun niat, semangat, dan keberaniannya jauh lebih besar dibandingkan otot-ototnya. Konsistensi pesan yang dibawakan itu dipadu dengan apik dengan aksi laga yang memanjakan mata serta efek visual yang mengagumkan. Perpaduan apik itu ternyata berimbas pada emosi yang mampu dirasakan oleh penonton, yang tertular dari apa yang tersaji di layar lebar. Apalagi dengan karakter Steve Rogers yang tadinya lemah secara fisik dan membuat dia dikucilkan mempererat kedekatan antara penonton dengan karakter pahlawan kita dengan ketidakberdayaan tersebut.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...