"Dimanakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi?". Disaat para penonton baru meletakkan pantat di kursi bioskop dan mencari posisi enak, mata dan pikiran penonton langsung dihajar dengan pertanyaan berat dan filosofis dalam narasi pembuka. Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang diajukan oleh Tuhan kepada Ayub, dalam kitab Ayub bab 38 ayat 4. Ternyata intro pembuka tersebut menjadi salah satu kunci signifikan untuk memahami lebih lanjut film The Tree of Life.
Film bergulir dengan menceritakan kehidupan keluarga O'Brien di tahun 1950-an. Bergerak dari sudut pandang Jack O'Brien di masa kini, si anak sulung yang mengalami disorientasi hidup karena trauma masa kecilnya. Di tengah perasaan absurd yang dialaminya di dunia modern ini, Jack mempertanyakan eksistensi hidup dan iman atas apa yang telah dialaminya semenjak trauma masa kecil tersebut. Memori-memori Jack tentang kehidupan keluarganya, masa kecil bahagianya bersama kedua adiknya, pola asuh keras dari ayahnya pun terangkat naik dan divisualisasikan dalam adegan-adegan yang non-linear selama cerita film berlangsung.
Gue masih tidak habis pikir, mengapa ada orang yang dengan berani membuat film yang berbicara tentang kehidupan, kematian, iman, evolusi kehidupan, dan eksistensi manusia? Premis film yang kelewat luas dan menyerempet kotak filsafat. Apalagi diceritakan dengan gaya editing yang acak, non-linear, dan adegan-adegan silih berganti seakan tidak ada kesinambungan sama sekali dengan inti ceritanya - apapun itu inti ceritanya. Ya, dia adalah Terrence Malick. Seorang sutradara dan penulis naskah yang berbakat dan jenius - serta kelewat nyentrik. Seorang sineas yang (hanya) membuat 5 film dalam 40 tahun? Badlands (1973), Days Of Heaven (1978), The Thin Red Line (1998), The New World (2005), dan yang paling terbaru adalah film yang dibintangi oleh Brad Pitt, Jessica Chastain, dan Sean Penn ini.
baca selengkapnya...
HUMMINGBIRD (2013) : ANTARA EGO DAN NURANI
3 days ago




