Sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Februari 2011 edisi Glasgow Film Festival adalah Little White Lies (Les Petits Mouchoirs). Ini dia salah satu keasyikan dalam memilih film di sebuah festival film; tidak pernah dengar tentang film ini sebelumnya, hanya mengandalkan sinopsis, pemeran, dan sutradara. Kalau gue pribadi, gue cukup puas dengan film-film Perancis yang gue tonton, terutama yang bertemakan keluarga dan persahabatan. Apalagi ada satu nama dalam film ini yang membuat gue semakin tertarik; Marion Cotillard.

Setiap tahun, Max seorang pengusaha restoran yang sukses beserta istri dan anaknya selalu mengajak teman-temannya untuk berlibur ke rumah pantai yang indah di Bordeaux. Namun kali ini, tepat sebelum berangkat, salah satu teman mereka sedang berada di rumah sakit dengan kondisi serius karena kecelakaan. Dengan tetap berangkatnya mereka untuk berlibur, kecelakaan dan kondisi serius tersebut malah membuat mereka menjadi membuka tirai gelap dari masing-masing karakter. Liburan itu pun menjadi liburan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yang akan membawa perubahan pada karakter dan hubungan diantara mereka.

Lama gue tidak menikmati film yang bertemakan persahabatan seperti ini, apalagi dibalut dengan drama dan komedi satir. Hubungan persahabatan diantara mereka sangat realistis dan mudah ditemui dalam keseharian kita. Melihat gambaran karakter salah satu dari mereka pun rasanya seperti mengingatkan gue akan beberapa teman-teman gue. Intinya, cerita yang digambarkan oleh film ini seakan mencerminkan tentang kehidupan persahabatan pada penontonnya. Film ini benar-benar secara vulgar menggambarkan apa-apa yang dapat terjadi dalam hubungan persahabatan, walaupun mereka sangat dekat dan memiliki rutinitas berlibur bersama setiap tahunnya.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 21 Februari 2010 edisi Glasgow Film Festival adalah How I Ended This Summer. Film kedua gue dalam playlist Glasgow Film Festival kali ini, gue pilih khusus karena ketertarikan gue untuk menyelami lebih banyak film-film asal Rusia. Ditambah dengan fakta bahwa film ini akan menjadi film asli Rusia pertama yang gue tonton. Walaupun The Way Back dan Le Concert juga beraroma Rusia, tapi tetap saja bukan karya sineas asal negara dengan demografi terbesar di dunia tersebut.

Berlokasi di sebuah pulau terpencil di Lingkaran Arktik, dua orang mencoba hidup berdampingan dalam kondisi cuaca yang ekstrim dan cukup terisolasi dari dunia luar. Sergei, seorang meteorologis musiman dan Pavel yang baru lulus dari kuliahnya hidup dan bekerja sama di sebuah stasiun penelitian dimana komunikasi dengan dunia luar hanya lewat radio panggil. Suatu hari Pavel menerima pesan penting dan menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Sergei, dimana ketakutan, kebohongan, dan rasa curiga menambah keruh atmosfer di pulau tersebut.

Dan wow. Gue sadar sudah setahun lebih gue tidak mengikuti festival film sehingga sudah lama gue tidak menikmati film-film "tipe festival" yang non-komersil dan thoughtful. Film ini benar-benar menjadi film yang brilian sebagai pengalaman pertama gue akan film-film asal Rusia. Plot cerita yang cukup sederhana namun sunggih unik, dibungkus dengan sinematografi yang luar biasa indah, drama yang "sepi" namun dapat membuat gue terduduk di ujung kursi bioskop.

baca selengkapnya...

Paul

Sobekan tiket bioskop tertanggal 17 Februari 2011 adalah Paul. Duet komikal klasik Nick Frost dan Simon Pegg telah kembali! Untuk ketiga kalinya, gue memandang sebelah mata film ketiga mereka berdua ini apalagi setelah melihat trailernya yang rasanya kurang menjual. Tapi atas nama penasaran dan demi mengikuti rekam jejak film-film yang dibintangi oleh mereka berdua yang selalu membuat gue terbahak-bahak, gue bersiap untuk apapun yang terjadi.

Graeme Willy (Pegg) dan Clive Golling (Frost) adalah dua sekawan sehidup semati pecinta sci-fi yang sedang bertualang di benua Amerika demi mengejar cita-cita mereka berdua; mendatangi tempat-tempat yang pernah "dikunjungi" oleh alien. Di tengah perjalanan, mereka malah bertemu dengan alien sungguhan, Paul. Walaupun melihat dan bertemu alien secara langsung adalah mimpi besar bagi para pecinta sci-fi, namun ternyata interaksi antara Graeme dan Clive dengan Paul pun tidak semudah yang dikira. Paul yang meminta tolong pada mereka untuk pulang ke kapal induknya, secara tidak sengaja menculik wanita muda, yang malah menambah panjang daftar orang-orang yang mengejar mereka.

Seperti Shaun of the Dead dan Hot Fuzz, gue dibuat terkagum-kagum karena ternyata film ini jauh diatas ekspektasi gue. Mereka berdua sudah pernah membuat versi kocak dari film zombie dan film action, kenapa tidak sekalian membuat film alien dengan sudut pandang yang berbeda? Sepertinya gue harus menerima kenyataan bahwa film yang dibintangi oleh duet Frost dan Pegg selalu menjadi film yang tidak hanya konyol tapi juga mengandung humor-humor cerdas. Betul, Pegg tanpa Frost (seperti Burke & Hare yang "gagal" itu) atau Frost tanpa Pegg dalam satu film bagaikan makan bakso tanpa mangkok. Apalagi jika didukung oleh cerita yang mengakomodasi chemistry diantara mereka berdua. Belum cukup itu saja, mari tambahkan satu alien hijau kecil yang suaranya diisi oleh bintang komedi berbakat asal AS, Seth Rogen, jadilah film yang sangat membuat hari gue menjadi lebih berwarna.

baca selengkapnya...

Gnomeo & Juliet

Sobekan tiket bioskop tertanggal 16 Februari 2011 adalah Gnomeo & Juliet. Satu-satunya hal yang menguatkan diri gue untuk menonton ini adalah rasa penasaran. Padahal semenjak melihat trailernya saja gue sudah memutuskan untuk menghindari menonton film ini di bioskop. Dengan nama Elton John yang mencetuskan ide untuk membuat film animasi tentang boneka-boneka gelas (gnomes) yang biasa ditaruh oleh orang-orang Inggris di halaman rumah mereka, setidaknya memberi harapan tersendiri bahwa film ini akan sedikit menjadi film musikal.

Para gnomes yang menghuni halaman rumah dua tetangga yang saling bersebelahan saling berseteru satu sama lain, bahkan ketika Gnomeo (James McAvoy) dari gnomes Topi Biru jatuh cinta pada Juliet (Emily Blunt) yang berasal dari gnomes Topi Merah. Halangan demi halangan pun harus dilalui oleh Gnomeo dan Juliet untuk dapat tetap bersatu satu sama lain ditengah perseteruan sengit kedua keluarganya.

Oke ternyata gue berharap terlalu banyak, dengan nama Elton John sebagai executive producer, ternyata film ini bukanlah sebuah film musikal. Tapi gue sedikit terhibur oleh dipakainya beberapa lagu tenar ciptaan Elton John yang dijadikan scoring dalam film ini. Namun sayang, film animasi dimana kekuatan utamanya adalah pada komedinya, tidak terlalu kuat dalam film ini. Film ini (terlalu) berusaha keras untuk melucu, yang hasilnya hanya melahirkan senyuman kecil bagi gue. Cerita pun seperti film-film lain yang (gagal) mentranslasikan cerita romansa klasik Romeo & Juliet ke dalam setting yang berbeda (kecuali West Side Story). Tapi nama-nama besar yang mengisi suara dari beberapa karakter cukup bisa menyelamatkan film ini.

baca selengkapnya...

The Mechanic

Sobekan tiket bioskop tertanggal 16 Februari 2011 adalah The Mechanic. Awalnya gue sama sekali tidak berniat untuk menonton film ini karena merasa bahwa ini adalah salah satu film tipikal John Statham yang datar dan biasa saja. Namun atas nama impulsif dan menghabiskan waktu, tidak ada salahnya juga sekali-sekali mencicip film-film "seperti ini".

Arthur Bishop (Jason Statham) adalah seorang "mekanik", pembunuh bayaran yang "memperbaiki masalah" dengan cara pembunuhan yang dimanipulasi menjadi sebuah kecelakaan fatal. Dengan aturan-aturan ketat yang ia miliki, Arthur menjalankan setiap pekerjaannya sebagai hidupnya sendiri. Masalah muncul ketika Harry (Donald Sutherland), mentor dan teman dekatnya dibunuh, perasaan bersalah menjadi halangan terbesar untuk meneruskan mata pencahariannya. Kemunculan Steve (Ben Foster) anak dari Harry seakan menjadi konsolidasi Arthur terhadap perasaan bersalahnya, dan dia pun bersedia melatih Steve yang labil dan impulsif untuk menjadi pembunuh bayaran professional seperti Arthur. Berdua mereka menjalin persahabatan yang mematikan, dan mereka harus menentukan takdirnya ketika takdir kebenaran mulai tersingkap.

Walaupun premis utama dalam film ini bukanlah sebuah lagu baru di dunia perfilman, tapi remake dari film berjudul sama di tahun 1972 ini cukup menarik untuk diikuti. Memang harus gue akui bahwa Jason Statham cukup pas untuk memerankan Arthur Bishop yang kaku dan berekspresi datar. Namun karena Jason Statham selalu memerankan karakter-karakter tipikal seperti ini membuat gue kurang bisa menikmati film ini sebagai film yang berdiri sendiri tanpa membanding-bandingkan dengan karakter Jason Statham di film-filmnya yang lain. Adegan-adegan aksinya pun tidak ada yang baru, walaupun setiap cara pembunuhan Arthur cukup unik dan kreatif. Entah mengapa ketika kemunculan Steve dalam jalan cerita, gue sudah bisa menebak bagaimana ending dari film ini, yang kemudian tebakan gue tersebut dijawab dengan baik oleh eksekusi di penghujung film.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 14 Februari 2011 adalah True Grit. Film ke-8 dalam deretan nominasi Best Motion Picture Oscar 2011 dan film kedua dari Matt Damon dalam tahun ini yang gue tonton. Sulit rasanya untuk melewatkan film yang ditulis dan disutradarai oleh Joel Coen dan Ethan Coen ini. Jelas kualitas mereka tidak perlu diragukan lagi karena ini adalah film kelima mereka yang dinominasikan menjadi Skenario Terbaik dan film keempat mereka yang mendapat nominasi Film Terbaik dalam Academy Awards.

Mattie Ross (Hailee Steinfeld) menyewa U.S. Marshall yang cukup disegani, Rooster Cogburn (Jeff Bridges) untuk mengejar seorang pembunuh, Tom Chaney (Josh Brolin) yang baru saja membunuh ayahnya. Namun Mattie memaksa untuk ikut dalam perburuan Chaney karena merasa tidak percaya pada karakter Rooster yang pemabuk. Tidak saja mereka berdua, seorang Texas Ranger, LaBoeuf (Matt Damon) juga bergabung dengan mereka ingin menangkap Chaney untuk urusannya sendiri. Bertiga, mereka melakukan perburuan dan petualangan yang menegangkan dan tidak terduga yang menguji determinasi mereka.

Film ini bukan merupakan remake dari film berjudul sama pada tahun 1969 yang diperankan oleh John Wayne, tapi Coen Brothers mengadaptasi naskah film ini langsung dari novelnya Charles Portis berjudul sama yang diterbitkan pada tahun 1968. Tampaknya sudah sekian lama Hollywood tidak memproduksi film-film Western asli dengan set dan kostum yang tampak otentik. Ditangan Coen Brothers, film ini memberi kesegaran tersendiri diantara film-film "bertema modern" yang bermunculan. Namun sebagai fans Coen Brothers, gue merasa kurang menikmati film ini, bila dibandingkan dengan film-film mereka sebelumnya. Walaupun premis yang ditawarkan cukup menarik dan menjanjikan ketegangan, namun pada nyatanya film ini dieksekusi dengan lebih serius - bahkan lebih serius dari A Serious Man. Film ini dibangun dengan sangat baik oleh dialog-dialog cerdas dan humor-humor tipikal Coen Brothers. Namun ketika adegan aksi yang ditunggu-tunggu pun tiba, ketegangannya tidak semeledak pistol-pistol yang saling menembak satu sama lain, walaupun shot-shot berdarah a la Coen Brothers masih ditampilkan. Tapi gue cukup menikmati penampilan para pemainnya yang sangat menarik

baca selengkapnya...

Soul Boy

Sobekan tiket bioskop tertanggal 12 Februari 2011 edisi Glasgow Film Festival adalah Soul Boy. Sepeninggalan gue dari Jakarta, gue sempat sedih plus ngiri dengan bagaimana gue melewatkan JiFFest dalam dua tahun berturut-turut. Namun ternyata kali ini gue tidak perlu merasakan hal tersebut karena ternyata Glasgow memiliki festival film sendiri setiap bulan kedua di setiap tahunnya. Kali ini pilihan film pertama jatuh pada film dengan setting Nairobi, Kenya di benua hitam Afrika. Gue ingat film Afrika terakhir yang gue tonton adalah Gods Must be Crazy, jadi rasanya film ini akan mengobati kekangenan gue akan film-film dengan setting Afrika.

Abila, 14 tahun, yang hidup bersama ayahnya di salah satu daerah terkumuh di Kenya harus menemui kenyataan bahwa ayahnya sedang sakit parah. Ayahnya pun meracau bahwa jiwanya hilang. Dengan pandangan mistis yang kuat yang masih saja menghinggapi hampir semua lapisan masyarakat, Abila percaya bahwa jiwa ayahnya diambil oleh seorang dukun sihir supranatural. Untuk mengembalikan jiwa ayahnya yang hilang, Abila pun harus melakukan tujuh tugas yang harus diselesaikan dalam satu malam.

Menarik mengetahui bahwa ide pembuatan film ini datang dari beberapa pembuat film asal Jerman yang ingin memberdayakan orang-orang semi (bahkan non)-profesional di Afrika untuk membuat film. Maka dari itu lebih dari setengah kru film dan semua pemeran dalam film ini adalah orang-orang lokal yang dilatih untuk membuat film dan berakting di depan kamera. Hasilnya? Sama sekali tidak terlihat bahwa mereka adalah amatir. Akting yang begitu natural dari setiap pemainnya, apalagi berasa naturalnya karena mereka menggunakan bahasa Swahili. Setiap gerak kamera, sound, score, sampai sinematografi pun tidak kalah kelas dengan Hollywood.

baca selengkapnya...

Easy A


Sobekan tiket bioskop tertanggal 11 Februari 2011 adalah Easy A. Senangnya gue ketika menemukan bahwa salah satu jaringan bioskop akan memutar kembali film ini hanya satu kali saja. Gue yang sudah lebih dulu nonton film ini di laptop, menemukan betapa sedihnya gue setelah menonton film ini, karena film sebagus ini harusnya ditonton di bioskop! Akhirnya kesempatan itu datang dan tidak gue sia-siakan. Ulasan tentang film ini sudah gue terbitkan di Elmo's Avenue, tapi demi rekam jejak Sobekan Tiket Bioskop, maka akan gue terbitkan ulang disini.

Dalam kehidupan sosial di sekolah, Olive Penderghast termasuk seorang siswi yang baik, tidak masuk dalam kategori kurang pintar, dan cantik. Namun ke-eksistensi-annya diragukan karena memang ia bukan termasuk seorang siswi yang populer. Namun suatu waktu pembicaraan dengan sahabatnya, dimana ia berbohong mengenai isu keperawanannya, dicuri dengar oleh salah satu siswi. Alhasil gosip pun menyebar dengan cepat dan secara tidak sengaja malah mendongkrak popularitas Olive yang sebelum ini namanya pun nyaris tidak pernah terdengar. Merasa diatas angin dan terbuai oleh popularitas itu, Olive pun menggunakan isu tersebut untuk mempertahankan, bahkan meningkatkan popularitasnya.


baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 8 Februari 2011 adalah A Little Bit of Heaven. Entah apa yang merasuki gue untuk menonton film ini. Mungkin karena gue cukup tergiur akan kombinasi Kate Hudson dan Gael Garcia Bernal sebagai pemeran utama dalam film ini.

Drama komedi romantis ini bercerita tentang bagaimana Marley (Hudson) yang tidak percaya dengan adanya komitmen cinta dan memuja hubungan tanpa komitmen. Namun pandangannya tersebut harus diuji ketika ia bertemu dokter tampan (Garcia Bernal) dan divonis bahwa hidupnya tinggal dua bulan lagi karena kanker mematikan.

Oke, plot cerita ini sungguh mirip dengan Love & Other Drugs yang baru gue tonton bulan lalu. Masih segar di ingatan, maka sangat sering gue menemukan diri gue membanding-bandingkan cerita Hudson-Garcia Bernal dengan Gyllenhaal-Hathaway. Tentu saja gue berpendapat bahwa duet Gyllenhaal-Hathaway lebih ber-chemistry dengan pendalaman karakter yang lebih kuat. Entah kenapa gue merasa Hudson-Garcia Bernal ini begitu datar dan dangkal. Apalagi dengan pembawaan cerita yang rasanya segmentasi film ini hanya untuk remaja saja.

baca selengkapnya...

Rabbit Hole

Sobekan tiket bioskop tertanggal 6 Februari 2011 adalah Rabbit Hole. Begitu melihat trailernya pertama kali, film ini langsung masuk dalam daftar playlist gue. Namun dengan premis yang ditawarkan, gue sadar bahwa gue harus menunggu mood yang tepat agar gue siap menyelami atmosfer film ini. Film ini pun melengkapi minggu pertama Februari gue sebagai film ketiga yang bercerita seputar kematian yang gue tonton dalam kurun waktu satu minggu.

Becca dan Howie Corbett (Nicole Kidman dan Aaron Eckhart) adalah pasangan suami istri yang hidup sempurnanya dijungkir-balikkan oleh kehilangan atas anak 4 tahun mereka. Dengan kepedihan yang amat sangat yang ditanggung, masing-masing Becca dan Howie mencoba menggapai pegangan hidup untuk tetap bisa berdiri tegak, kepada siapapun orang-orang di sekitarnya. Pengalaman mereka mencari konsolidasi dengan orang-orang sekitar membawa mereka perlahan namun pasti untuk menemukan kembali arti hidup mereka.

Menurut gue, nonton film ini lebih asyik dan enak kalau tidak membaca sinopsisnya secara detil terlebih dahulu. Maka dari itu gue membuat sinopsis di atas se-general mungkin, walaupun menurut gue "kehilangan anak yang masih berumur 4 tahun" juga telah mengikis keasyikan tersendiri dalam menikmati film ini. Film ini adalah tipikal film-film dimana para penonton merasakan serunya untuk merangkai puzzle besar dari potongan-potongan dialog, ekspresi, gerak tubuh, dan kejadian yang ada di layar untuk menjawab apa yang terjadi pada sepasang suami istri ini. Walaupun penceritaan di layar tidak memberikan kata yang jelas, namun entah kenapa mata gue seakan tersihir untuk terus mengikuti jalan cerita untuk kemudian memungut satu persatu potongan-potongan puzzle yang tersebar. Film ini juga diakhiri dengan adegan yang menurut gue pun apa yang terjadi selanjutnya pada pasangan ini dapat terbersit oleh gerakan kecil yang mereka lakukan di adegan tersebut. Dengan jalan cerita seperti itu, ending film ini terbilang cukup fair.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Februari 2011 adalah Hereafter. Sulit rasanya bagi gue untuk melewatkan karya terbaru dari Clint Eastwood. Apalagi dengan premis yang klasik tapi cukup menarik; apa yang terjadi setelah kematian. Dalam film ini, Eastwood juga kembali bekerja sama dengan Matt Damon setelah Invictus (2009).

Film ini mengangkat tiga cerita dari tiga karakter di tiga negara yang berbeda. Marie Lelay seorang jurnalis asal Paris mengalami near-death experience yang mengguncang hidupnya saat ia sedang berlibur, Marcus seorang anak sekolah di London baru saja kehilangan orang terdekat dalam hidupnya, dan George yang memiliki anugrah  untuk memiliki hubungan dengan kehidupan setelah kematian. Ketiga karakter ini masing-masing bergulat untuk mencari jawaban apa yang terjadi setelah kematian, untuk kemudian jalan mereka akan bersinggungan di satu titik.

Ternyata gue butuh lebih dari sekedar konsentrasi untuk dapat bertahan menonton film ini sampai akhir. Dengan tempo yang kelewat lambat ditambah dengan atmosfer yang suram, sulit rasanya untuk tidak menguap di tengah-tengah film. Walaupun dibuka dengan adegan-adegan perkenalan dari masing-masing karakter yang menarik, perkembangan cerita dari setiap karakter ini berjalan cukup membosankan dan membuat gue engga sabar untuk mem-fast forward sampai ke ending film. Memang benar, film ini ditutup dengan ending yang cukup menyentuh, karena terjustifikasi oleh perasaan menunggu-nunggu tadi. Namun entah kenapa setelah keluar dari bioskop, gue merasa "kosong" setelah menonton film ini. Tidak ada hal yang bisa didiskusikan, tidak ada adegan-adegan yang menempel di kepala. Tampaknya gue terlalu berharap banyak untuk bisa mendapatkan jawaban pasti dari premis utama; apa yang terjadi setelah kematian.

baca selengkapnya...

Tangled

Sobekan tiket bioskop tertanggal 5 Februari 2011 adalah Tangled. Ternyata film-film animasi disini muncul jauh lebih belakangan ketimbang di Asia sana ya. Setelah gue hanya bisa gigit jari selama dua bulan membaca setiap ulasannya di berbagai blog film, akhirnya kesampean juga untuk menonton film animasi terbaru dari Disney ini.

Setelah menerima kekuatan ajaib dari bunga emas, bayi Putri Rapunzel diculik dari Raja dan Ratunya oleh Mother Gothel. Mother Gothel tahu bahwa kekuatan ajaib yang bisa membuatnya tetap muda tumbuh dalam rambut Rapunzel, maka dari itu ia meyakinkan Rapunzel bahwa dunia luar sangat berbahaya dan sebaiknya tetap tinggal di dalam menara seumur hidup. Ketika dewasa, rasa penasaran Rapunzel akan dunia luar pun semakin berkembang seiring dengan bertambah panjangnya rambut emas dia. Suatu hari seorang bandit buronan, Flynn Rider, datang ke menara tempat Rapunzel tinggal dengan maksud bersembunyi namun malah disandera oleh Rapunzel. Mahkota hasil curian yang disembunyikan oleh Rapunzel pun membuat Flynn setuju dengan perjanjian yang ditawarkan oleh Rapunzel; mengantar Rapunzel untuk melihat festival lampion dan mengembalikannya ke menara dengan selamat. Ternyata perjalanan tersebut bukan sekedar perjalanan melihat terangnya lampion-lampion yang terbang memenuhi langit, tetapi juga melihat terangnya kebenaran tentang siapa sebenarnya dirinya yang akan terungkap.

Manuver Disney untuk kembali menceritakan ulang dongeng-dongeng klasik ternyata merupakan suatu keputusan yang brilian. Pada dasarnya Disney memang ahli dalam mengubah dongeng klasik menjadi tontonan yang menghibur. Khusus dalam Rapunzel ini dimana beberapa detail kecil dimodifikasi oleh Disney dari cerita aslinya yang dikarang oleh Brothers Grimm, pun menurut gue malah lebih baik ketimbang versi orisinilnya. Komedi-komedi yang ditampilkan juga segar dan mengundang tawa. Sisi romansa antara Rapunzel dengan Flynn pun menyentuh hati. Namun yang membuat gue terkagum-kagum selama 100 menit adalah visualnya yang luar biasa indah.

baca selengkapnya...

Morning Glory

Sobekan tiket bioskop tertanggal 4 Februari 2011 adalah Morning Glory. Film ini memang sudah masuk dalam daftar playlist gue semenjak rilis sekitar 3 minggu yang lalu, tapi terlalu banyak invasi film-film nominasi Oscar yang membuat gue harus membuat skala prioritas. Lagipula gue sangat tertarik dengan premis yang ditawarkan oleh film ini, sebuah hal dimana gue belum memiliki kesempatan untuk berkenalan; dunia broadcasting.

Becky (Rachel McAdams) adalah produser pekerja keras untuk acara TV di pagi hari, sampai suatu saat dia dipecat. Nyaris putus asa untuk mendapatkan pekerjaan, akhirnya ia diterima oleh sebuah stasiun TV swasta yang juga putus asa untuk mencari produser untuk acara paginya yang ratingnya menurun; Daybreak. Tantangan bagi Becky pun dimulai; untuk membenahi segala hal yang berhubungan dengan Daybreak, termasuk mempekerjakan seorang reporter berita yang kelewat egoistis, Mike Pomeroy (Harrison Ford). Ditekan oleh atasan untuk menaikkan rating, Becky juga harus menghadapi kerasnya Mike yang lebih mementingkan citra dirinya daripada Daybreak itu sendiri.

Datang tanpa ekspektasi apapun, ternyata gue sangat terhibur oleh film ini. Entah berapa kali gue dibuat ngakak dimana durasi setiap kali gue ngakak bisa bertahan sampai beberapa saat. Komedi yang disajikan memang luar biasa segar dan kena. Belum lagi dengan plot cerita yang benar-benar baru buat gue, ditambah dengan penampilan Rachel yang oke dan Oom Harrison yang memorable.

baca selengkapnya...

Sobekan tiket bioskop tertanggal 3 Februari 2011 adalah How Do You Know. Film ini adalah salah satu hasil manuver nonton gue di menit-menit terakhir sebelum mendatangi meja kasir. Entah dorongan apa yang membuat gue ingin menonton film ini. Mungkin karena gue tertarik dengan premis dasar yang ditawarkan oleh film ini; gimana elo tahu bahwa elo sedang jatuh cinta atau he/she is the one.

Lisa (Reese Witherspoon) adalah seorang pemain timnas softball USA yang berbakat dan sedang berada di puncak karirnya.. Namun karena satu dan lain hal, ia tidak dipanggil kembali ke dalam tim. Seakan kehilangan pegangan hidup karena ia harus menata ulang hidup dan masa depannya, ia terjebak dalam sebuah cinta segitiga yang membingungkan. Matty (Owen Wilson) sebagai rekan sesama atlet softball yang mati-matian menyayangi Lisa tetapi sikapnya yang terkadang tidak menyenangkan dan George (Paul Rudd) seorang pebisnis yang baru saja terkena masalah besar; dituntut karena dituduh melakukan penipuan, kehilangan karir, dan baru putus dari pacarnya. Lalu bagaimana Lisa tahu pria mana yang benar-benar ia cintai?

Oke, sejak kemunculan karakter George yang notabene berada di situasi yang sama-sama sulit dengan Lisa, gue sudah bisa menebak kemana jalan cerita akan berjalan. Disamping premis dasar yang juga menjadi judul film ini yang menarik, praktis tidak ada hal yang baru yang ditawarkan sepanjang cerita film ini. Beruntung unsur komedi pada film ini masih ada dan bisa menyelamatkan penonton dari kantuk. Tapi unsur komedi itu juga sebagian besar dipengaruhi oleh kemunculan Jack Nicholson di layar. Setelah absen tiga tahun dari layar lebar, Jack praktis menyelamatkan film ini dengan penampilannya.

baca selengkapnya...

The Fighter

Sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Februari 2011 adalah The Fighter. Film ketujuh yang gue tonton dari nominasi Best Picture Academy Awards 2011. Pertama kali melihat poster film ini terpampang di salah satu dinding bioskop terdeket, gue hanya melihatnya sambil lalu karena film tentang tinju bukan hal baru. Namun setelah mengetahui bahwa film ini mondar-mandir di berbagai penghargaan, dan selalu menancapkan lebih tiga nominasi di setiap penghargaan, gue jadi tertarik. Belum lagi Christian Bale, Melissa Leo, dan Amy Adams yang bergantian memenangi BAFTA, Golden Globes, dan calon kuat merebut piala Oscar pada 27 Februari 2011 nanti.

Cerita yang berdasarkan kisah nyata tentang perjalanan karir tinju Micky Ward (Mark Wahlberg) untuk merebut gelar tinju kelas menengah. Kisah perjalanan tinju Micky yang seakan bentuk hidup dari Rocky-nya Stallone ini, diasuh oleh Dicky (Christian Bale) yang sudah dianggap sebagai kakak sendiri. Dengan ibunya sebagai manajer, Micky mulai merasa bahwa karir tinjunya kurang bisa berkembang jika ia terus bersama mereka. Apalagi Dicky yang kecanduan obat-obatan tersandung masalah kriminal. Setelah bertemu dengan Charlene (Amy Adams), jalan Micky menuju karir profesional pun terbuka lebar. Masalah muncul ketika Micky harus memilih mana yang lebih penting dalam hidupnya; karir tinju atau keluarganya.

Sekarang gue tahu kenapa film arahan David O. Russel ini banyak mendapatkan nominasi dan penghargaan di award season ini. Cerita yang diambil dari kisah nyata yang dituliskan ke dalam bentuk layar lebar adalah bukan hal yang terbilang mudah. Kalau diangkat dari novel, mungkin akan sedikit lebih mudah untuk diangkat ke layar lebar. Tapi kalau cerita yang diangkat dari data mentah kemudian ditulis dalam bentuk layar lebar mungkin memiliki tantangan tersendiri. Lepas dari seberapa setia dan akurat cerita dalam film ini terhadap kisah nyatanya, dengan mengikuti cerita pada film ini kita bisa melihat bagaimana perjuangan pantang menyerah dari Micky. Tidak hanya Micky, tapi juga karakter-karakter lain seperti Dicky yang melawan kecanduan dan tindakan kriminalnya, ibu dari Micky dengan sifat posesifnya, dan Charlene yang menginginkan karir Micky untuk terus maju. Memang sebuah judul film yang tepat untuk menggambarkan semangat yang ada di dalamnya.

baca selengkapnya...

Biutiful

Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Februari 2011 adalah Biutiful. Ini adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu kemunculannya. Sempat gigit jari karena beberapa teman telah duluan menontonnya dalam JiFFest 2010 kemarin. Namun penantian gue akan film-filmnya Alejandro Gonzales Inarritu memang selalu terbayar lunas. Belum lagi nama Javier Bardem yang siap menghias film ini sebagai pemeran utama.

Uxbal (Bardem) adalah seorang ayah dari dua orang anak dan suami dari istri yang menderita gangguan mental bipolar. Tidak banyak yang kita tahu mengenai latar belakang dari dirinya selain ayahnya yang meninggal saat usia muda. Namun Uxbal berusaha keras untuk mengumpulkan uang demi menjaga agar kedua anaknya tetap dapat makan dan memiliki tempat tinggal yang layak. Uxbal menafkahi keluarganya dengan bekerja sebagai middle man antara komunitas imigran Cina yang memproduksi barang-barang bajakan dengan komunitas imigran asal Senegal yang menjual barang-barang tersebut, lalu menjadi human trafficker bagi para imigran Cina. Selain itu Uxbal juga memiliki anugrah untuk menghantarkan arwah-arwah orang yang telah meninggal agar dapat menyeberang dan bisa meninggalkan dunia dengan damai, yang tentunya keistimewaan ini ia gunakan untuk mencari uang.

Merasa bahwa tugasnya sebagai ayah bagi kedua anaknya belum selesai, Uxbal menerima sebuah berita yang sangat tidak mengenakkan; umurnya tinggal dua bulan lagi karena dirinya didiagnosa menderita kanker prostat. Tugas berat dengan batas waktu pun tidak bisa dielakkan; alih-alih menghantarkan arwah-arwah untuk menyeberang ke dunia lain, kali ini ia harus menghantarkan dirinya sendiri agar siap untuk meninggalkan kedua anaknya di tengah-tengah situasi dan kondisi dunia yang tidak pernah sempurna.

Bagi gue ketika menonton film ini gue merasa bahwa belum ada satu minggu semenjak gue nonton Get Low, gue sudah disuguhkan film dengan tema yang hampir serupa. Tahu kematian akan tiba, si karakter utama pada kedua film tersebut pun berusaha menuntaskan tugas-tugasnya di dunia sebelum meninggal. Namun jika Get Low dibawakan dengan bungkus romantika dan sedikit cipratan komedi, film keempat arahan Inarritu ini digambarkan dengan nuansa melodramatis. Sungguh bukan sebuah film yang tepat jika anda mencari hiburan untuk melepaskan penat. Jauh dari itu, film ini akan membawa pikiran dan perasaan anda sibuk larut dalam ekspresi dan tatapan nanar mata dari Uxbal. Sesak, depresif, namun diakhiri dengan ending yang indah dan penuh dengan harapan.

baca selengkapnya...

The Green Hornet

Sobekan tiket bioskop tertanggal 1 Februari 2011 adalah The Green Hornet. Ini dia satu lagi film superhero yang merupakan hasil adaptasi, walaupun tokoh pahlawan yang satu ini muncul pertama kali di sebuah drama serial radio di tahun 1936 yang kemudian dijadikan serial TV di tahun 1940-an. Gue yang sebelum ini sama sekali belum pernah mendengar tentang tokoh pahlawan yang satu ini, tidak berharap banyak walaupun dengan nama Christoph Waltz dan Cameron Diaz di jajaran cast pendukungnya.

Seorang pemuda 28 tahun yang suka hidup bersenang-senang, Britt Reid (Seth Rogen), harus memimpin sebuah surat kabar terkenal di Los Angeles setelah kematian tiba-tiba dari ayahnya. Berpartner dengan pembuat kopi di rumahnya yang ternyata ahli mekanik dan ahli bela diri, Kato (Jay Chou), mereka memutuskan untuk memerangi kejahatan di kota dengan menggunakan topeng dan nama "The Green Hornet".

Entah apa yang harus gue ulas dari film ini. Beruntung gue tidak memiliki ekspektasi apapun terhadap film ini. Namun ekspektasi nol itu pun tetap membuat gue kecewa dan sempat muncul keinginan untuk walk out di penghujung film. Akting yang datar, karakter yang tidak hidup, cerita yang lemah, satu-satunya adegan dan bagian yang bagus dan menghibur adalah ending credit-nya.

baca selengkapnya...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...