sobekan tiket bioskop tertanggal 29 April 2010 adalah The Men Who Stare at Goats. setelah melihat trailernya pertama kali, gue langsung tertarik dengan ide ceritanya yang "gila" dan unik. apalagi film ini diperkuat oleh deretan aktor papan atas macam George Clooney, Ewan McGregor, dan Kevin Spacey. pastinya film ini akan segila apa yang ditampilkannya di trailer.

bercerita tentang seorang wartawan, Bob (Ewan McGregor), yang putus asa lalu memutuskan untuk pergi ke Irak untuk mencari berita terbaik. perjalanannya dimulai dengan pertemuan tak sengaja dengan Lyn Cassidy (George Clooney), yang ternyata adalah seorang anggota pasukan khusus AS yang memiliki kekuatan paranormal. petualangan mereka berdua pun menjadi tidak terkendali.

wuah, film yang cukup gila sekaligus sinis. humor-humor yang dilempar dalam film ini menurut gue cukup bersifat komedi satire. dalam dan kena, khususnya dalam menyindir pihak-pihak yang terobsesi pada penciptaan prajurit-prajurit yang memiliki kekuatan paranormal. gilanya lagi, film ini jelas mengekspos analogi "prajurit super" ini dengan Jedi Warrior. yang lucunya dimana karakter Lyn yang menganalogikan ini kepada karakter Bob yang lalu dijawab bahwa dia belum pernah menonton Star Wars, padahal McGregor berperan sebagai Jedi Warrior itu sendiri di Episode II dan III! haha.

selain itu, hadirnya McGregor sebagai sidekick dari Clooney dalam film ini adalah sebuah ramuan yang cukup pas. karakter Bob sendiri yang lugu dan mudah terpengaruh, ditambah lagi dengan obsesinya untuk menunjukkan siapa dirinya kepada istrinya yang justru memberi dia tambahan energi untuk setiap langkah petualangannya. karakter Lyn sendiri yang dingin dan terkesan misterius sekaligus impulsif, yang terkadangan dengan berbagai kemampuan paranormal dia yang membaut penonton mengernyitkan dahi sekaligus tertawa getir.

tapi memang, film ini bukan jenis film popcorn yang bisa memberi hiburan tersendiri kepada penonton. setelah menonton film ini, pikiran gue jadi berputar, kira-kira apa yang ingin disampaikan oleh si pembuat film ini? mungkin memang ada makna yang tersirat dalam film ini, tapi jujur gue belum menemukannya.

rating?
7,5 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 26 April 2010 adalah Bangkok Traffic (Love) Story. gue tertarik untuk nonton film ini karena memang penasaran aja dengan film-film asal Thailand. sepengalaman gue sih, kalo mereka bikin film humor itu emank kocak banget, apalagi ditambah dengan bahasa mereka yang menurut gue juga menarik. ditambah dengan promosi di poster film ini bahwa tingkat penjualan film ini menyamai Phobia 2.

bercerita tentang seorang wanita, Li, yang umurnya sudah "kepala tiga", merasa tertekan karena tidak kunjung mendapat jodoh, ditambah lagi dengan sahabatnya yang telah menikah. namun nasib Li segera berubah setelah dalam perjalanan dengan angkutan umum ke kantornya, membawa dia ke pertemuan tidak sengaja dengan Lung, seorang pemuda yang bekerja pada malam hari. pertemuan itu pun menyeret mereka ke dalam kisah romantis yang tentunya tidak semulus yang mereka kira.

well, film ini adalah film yang cukup representatif untuk menggambarkan seperti apa kehidupan di Thailand, khususnya di moda angkutan umumnya yang terdiri dari berbagai macam kendaraan, mulai dari jeepney, ojek, perahu boat, sampai kereta MRT. selain itu, film ini juga memperkenalkan Festival Songkran, sebuah tradisi orang-orang Thailand yang saling menyiram air kepada orang yang ditemui di jalan untuk merayakan tahun baru mereka.


kisah cinta yang ditampilkan dalam film ini pun rasanya cukup dekat dan mengena dengan para penonton. mulai dari pertemuan tidak sengaja di kendaraan umum, bagaimana Li mencoba mendekati Lung, hadirnya orang ketiga diantara mereka berdua, sampai pada bagaimana orangtua Li mencoba menjodohkan dia dengan seseorang.

tapi menurut gue, cuma satu kekurangan film ini. entah kenapa gue kurang sreg dengan akting para karakter yang ada. entah kurang atau malah berlebihan. yang jelas dengan melihat akting mereka mengingatkan gue akan film romantis komedi asal Indonesia. tapi memang, untuk jokes yang ditampilkan, film ini cukup bisa mengocok perut para penonton.

rating?
6 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 25 April 2010 edisi Festival Sinema Perancis adalah Le Concert. ini adalah film yang gue tunggu-tunggu semenjak gue membaca sinopsisnya. hanya ada dua kata kunci pada sinopsisnya yang langsung membuat gue tertarik untuk nonton; orkestra dan Rusia.

bercerita tentang Andrei Filipov, seorang tukang bersih-bersih yang nyatanya adalah seorang konduktor suatu orkestra pada tiga puluh tahun lalu. setelah mendapatkan undangan untuk tampil di Chatelet Paris, ia pun ingin menyamar sebagai Orkestra Bolshoi untuk dapat tampil dan mengulang masa kejayaan tiga puluh tahun lalu. bersama temannya, ia mengumpulkan kembali anggota-anggota orkestranya yang sudah tersebar di seluruh kota selama tiga puluh tahun. ternyata usaha untuk tampil lagi tidak semudah yang ia harapkan, bahkan sampai beberapa detik setelah tirai opera diangkat.

film ini benar-benar jauh diatas ekspektasi gue. salah satunya adalah gue menemukan bahwa 75% dari film ini berbahasa Rusia dan memang aktor dan aktris asal Rusia, walaupun film ini buatan Perancis. baru kali ini gue nonton film yang berbahasa Rusia dan gue cukup senang akan hal itu. selain itu konsep cerita yang juga cukup unik. cerita semacam ini mungkin kita bisa temukan pada film-film lain yang bertema olahraga atau malah kelompok pencuri, tapi sebuah orkestra? mungkin baru film ini.


selain itu kedalaman karakter yang ditampilkan juga cukup detail, sampai di akhir film penonton dapat merasakan bahwa karakter tersebut cukup dekat dengan kita. yang gue suka adalah gaya bertutur cerita dalam film ini. sepanjang film, penonton diajak untuk mengikuti sepak terjang Andrei dalam mewujudkan konsernya, mulai dari mengumpulkan teman-teman orkestranya, tiket pesawat, visa, sampai penginapan. perjuangan ini serasa tanpa akhir melihat bagaimana Andrei menemui berbagai halangan dan rintangan. namun penantian penonton itu pun terbayar setelah melihat hasil jerih payah Andrei, sebuah konser yang mengagumkan!

orang-orang yang dekat dengan dunia orkestra ataupun yang pernah terlibat didalam sebuah konser orkestra, pasti akan suka menonton film ini dengan melihat segala macam seluk beluk untuk mempersiapkan sebuah konser orkestra yang harmonis.

rating?
8,7 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 25 April 2010 edisi Festival Sinema Perancis adalah Tellement Proches. well, gue nonton film ini cuma biar engga nganggur aja dari show sebelumnya dan show sesudahnya yang memang udah gue incar. mengingat genre pada film ini juga komedi, jadi yah kenapa tidak.

bercerita tentang satu keluarga besar dimana masing-masing anggota keluarganya memiliki masalahnya sendiri. Alain, Nathalie, Jean-Pierre, Catherine, Bruno, Roxane. Alain dan Natalie, sepasang suami istri yang hubungannya menjadi memburuk gara-gara tingkah anaknya yang hiperaktif. Jean-Pierre dan Catherine yang hubungannya juga menjadi aneh karena Catherine menjadi pemeluk agama Yahudi. lalu Roxane yang secara tidak sengaja bertemu Bruno dan tergila-gila padanya.

wah baru kali ini gue dapat pengalaman untuk nonton film komedia satire. setiap kejadian kocak atau lucu yang ada di layar, ketika kita menertawakannya, serasa menertawakan diri sendiri. karena apa yang ada dalam cerita ini memang sangat dekat dengan kehidupan orang-orang di sekitar kita.


pasangan suami-istri yang tidak bahagia, seorang wanita yang tergila-gila pada seorang pria. dan seorang pria yang rela melakukan apa saja untuk meningkatkan karir pekerjaannya. keadaan setiap karakter yang ditampilkan juga cukup ironis satu sama lain.

satu yang gue suka, film ini tidak berfokus pada satu karakter saja tapi keenam karakter diatas. semacam model Crash tapi bedanya pada film ini, semua karakter saling mengenal satu sama lain.

rating?
7 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 25 April 2010 versi Festival Sinema Perancis adalah Le Petit Nicolas. tadinya gue engga terlalu tertarik akan film ini. tapi setelah tahu bahwa tiket untuk semua show film ini telah terjual habis bahkan satu minggu sebelum festival dimulai, gue jadi penasaran. beruntung gue nemu seorang kaskuser yang mau menjual kelebihan tiket. cihuy!

bercerita tentang Nicolas yang terpengaruh oleh cerita temannya bahwa memiliki adik itu adalah hal yang mengerikan. karena suatu hal, Nicolas pun berimajinasi bahwa orang tuanya akan memiliki anak lagi. Nicolas dan teman-temannya pun berusaha dengan segala cara untuk menyingkirkan calon adiknya yang akan lahir.

sumpah, film ini kocak banget! baru kali ini gue nonton film sampe ngakak-ngakak keluar air mata. entah kenapa, kepolosan anak-anak kecil itu bisa mengundang tawa. dari segi ceritanya sendiri yang memang unik, sampai tingkah polah para anak-anak ini. sampai bingung, anak sekecil itu sudah bisa berakting? wowh!


tidak hanya anak-anaknya, para aktris dan aktor pendukungnya juga tampil oke dan menggelikan. mulai dari orang tua Nicolas, guru, sampai pada kepala sekolahnya. tidak hanya sisi komedi, film ini juga menyiratkan makna kekeluargaan sampai persaudaraan.
dan memang, credit title-nya adalah salah satu yang terbaik sepanjang sejarah gue menonton berbagai film!
recommended for watching, even only in DVD!

rating?
8,5 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 24 April 2010 versi Festival Sinema Perancis adalah OSS 117: Rio Ne Repond Plus. memang salah satu pertimbangan gue dalam memilih film-film di festival tahun ini adalah sebisa mungkin memilih film-film bergenre komedi. karena memang sepengalaman gue, film-film Perancis cukup kuat komedinya.

bercerita tentang seorang agen rahasia Perancis yang mengejar buronan Nazi sampai ke Rio de Janeiro, Brasil. dalam petualangannya mengejar buronan tersebut, sang agen ditemani oleh seorang wanita cantik dan perjalanan menjadi semakin seru sekaligus menggelikan.

well, tampaknya film ini hendak menjadi parodi dari film-film James Bond. dengan gaya flamboyannya dan setiap gerak-geriknya. apalagi setting film dibuat di tahun 80-an. tapi entah kenapa lelucon-lelucon yang keluar rasanya kurang kena. mungkin karena leluconnya terlalu "Perancis" sehingga kurang dimengerti oleh penonton Indonesia.
selain itu, gue juga kurang suka dengan gaya bercerita film ini, seakan-akan si agen adalah manusia super yang sulit untuk mati. tapi selain itu, film ini juga hendak mempromosikan tempat-tempat wisata di Rio, terbukti beberapa adegan diambil di beberapa lokasi wisata yang terkenal.

rating?
6 of 10

The Road

sobekan tiket bioskop tertanggal 22 April 2010 adalah The Road. awalnya gue engga terlalu tertarik untuk nonton film ini. tapi setelah melihat trailernya dan tahu bahwa film ini diangkat dari novel karya Cormac McCarthy (No Country for Old Men), gue jadi tertarik dan penasaran akan film ini.

bercerita tentang perjalanan seorang ayah dan anaknya ke Selatan setelah bumi hancur oleh suatu keadaan bencana. kehancuran bumi membuat seluruh hewan dan bahan pangan habis, sehingga manusia yang tersisa bertahan hidup dengan makanan seadanya.

aha, another post-apocalyptic movie. memang sih nonton film ini, secara automatis gue membandingkan dengan The Book of Eli. karena memang ide dasar ceritanya cukup mirip; perjalanan seseorang menuju suatu tempat, untuk bertahan hidup di tengah bumi yang hancur karena suatu keadaan bencana.

pada The Book of Eli, cerita berjalan seakan-akan sosok Eli adalah sosok pahlawan penumpas kejahatan dan pembela kebenaran. namun pada film ini, cerita lebih berpusat kepada kehidupan manusia yang mencoba bertahan hidup dengan segala cara melawan ganasnya dingin dan langkanya bahan makanan. seakan-akan pilihan untuk hidup menjadi sempit, antara menjadi pemakan sesama manusia atau bunuh diri.
yang gue suka pada film ini adalah, cerita pada film ini benar-benar manusiawi. dalam artian, bila kita berada pada situasi seperti yang diceritakan pada film tersebut, tentunya kita akan melakukan hal yang sama; bertahan hidup dengan tidak memakan sesama dan tidak bunuh diri adalah cara yang benar-benar sulit untuk dijalani.
oya, film ini tipikal film-film non-Hollywood yang menjanjikan hiburan. sebaliknya, banyak sekali makna kemanusiaan yang terdapat dalam film ini. suasana film ini suram dan gelap, terlihat dari tone warna yang buram. suasana suram ini diperkuat oleh sepi dan alur yang berjalan lambat. wajar kalau di akhir cerita, penonton merasa capai karena diajak bertualang dan menghindari segala macam bahaya.
recommended for watching bagi pencinta film post-apocalyptic.

rating?
7,5 of 10.

The Lovely Bones

sobekan tiket bioskop tertanggal 19 April 2010 adalah The Lovely Bones. begitu melihat posternya dan tahu bahwa Peter Jackson yang membesut film ini, gue langsung berniat untuk menonton film ini. sayang di Jakarta cuma keluar di beberapa bioskop, entah kenapa. tapi rasanya film ini akan mengobati kerinduan akan film besutan Peter Jackson setelah King Kong.

bercerita tentang Susie Salmon, seorang gadis 14 tahun yang mati dibunuh dan diperkosa, mengamati keluarganya yang ditinggalkan dan pembunuhnya, dari tempat "in-between" (antara surga dan bumi). Susie mengamati bagaimana ayahnya menjadi terobsesi untuk mencari siapa pembunuhnya dan ibunya yang depresi akan kematiannya. namun Susie harus melepaskan segalanya, termasuk dendam terhadap si pembunuh, agar bisa benar-benar masuk ke dalam surga.

gue memang belum baca novelnya sih, tapi dari sudut pandang gue, tampaknya film ini berhasil untuk memvisualisasikan apapun yang ada dalam bukunya. maksud gue, segala macam visualisasi tentang dunia in-between ini sangat imajinatif dan indah. tolong jangan dibandingkan dengan dunia imajinasinya Dr. Parnassus atau cerita dalam The Fall. menurut gue, film ini cukup sukses untuk mencetak visualisasi dunia in-between dengan cukup apik.
pendapat gue pribadi, gue cukup menikmati setiap gambar dan adegan yang disajikan. apalagi dengan adegan-adegan yang seakan-akan ada koneksivitas antara orang-orang di sekitar Susie yang ada di bumi dengan Susie yang ada di dunia in-between, sebuah konsep yang menarik sekali. apalagi dengan makna-makna yang tersirat di dalamnya, tentang bagaimana untuk legowo, dalam bahasa Jawa.
overall, film ini bukan salah satu dari film favorit gue dan bukan juga karya terbaik dari Jackson. tapi bagi para pencinta CGI dan yang ingin matanya dimanjakan oleh olahan gambar Peter Jackson (seperti pada LOTR dan King Kong), film ini patut ditonton di bioskop. tapi bagi yang penasaran dengan ceritanya dan tidak terlalu ngefans dengan teknologi CGI, patut tonton di DVD.rating?
7,5 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 15 April 2010 adalah How to Train Your Dragon. sebenarnya sudah lama mau nonton film ini, tapi berhubung keterbatasan waktu, baru kesampaian hari ini.

Seorang remaja Viking bernama Hiccup (Jay Baruchel) tinggal di pulau Berk, di mana memerangi naga adalah kegiatan sehari-hari. Hiccup tidak disukai oleh sukunya sendiri dan sang kepala suku yang juga ayahnya, Stoick the Vast (Gerard Butler). Namun, ketika Hiccup masuk dalam Pelatihan Pemusnahan Naga bersama remaja Viking lainnya, ia melihat kesempatan untuk membuktikan bahwa ia memiliki bakat untuk menjadi seorang pejuang. Setelah ia berhasil menangkap seekor naga, Hiccup justru akhirnya berteman dengannya. Hubungan ini menjadi rumit ketika ia berusaha untuk meyakinkan sukunya bahwa mereka tidak perlu memusuhi naga.

tampaknya gue nonton film ini di momen yang tepat; masih dalam masa-masa euforia Hachiko. tapi bedanya, dalam film ini yang menjadi binatang peliharaan tak lain dan tak bukan adalah NAGA. yeah, sebuah konsep cerita yang cukup unik. secara kualitas juga cukup meaningful, bahwa lebih baik memahami dan mengerti suatu hal daripada mati-matian menolak dan berperang melawan hal tersebut.

gue cukup kagum dengan kualitas gambarnya. gue sadar bahwa di era seperti ini, bukan hal yang mustahil untuk menciptakan gambar apapun. tapi dalam film ini, kualitas gambarnya benar-benar tampak seperti hidup. luar biasa.

oiya, tidak usah takut bahwa film ini menjadi seperti film anak-anak. malah film ini tidak sebegitu childish-nya kok, alias orang dewasa pun masih bisa menikmatinya karena jokes yang dilempar juga cukup cerdas.

nonton di DVD? pikir dulu dua kali. dengan kualitas gambar sebrilian ini, sangat disarankan untuk nonton di bioskop. 3D lebih baik.

rating?
8 of 10

[Rec]2

sobekan tiket bioskop tertanggal 13 April 2010 adalah [Rec]2. yup, ini adalah sekuel dari film pertamanya, [Rec] (2007). mungkin yang pernah nonton Quarantine, versi Hollywood dari [Rec]. sekuel ini memang sudah gue tunggu-tunggu sejak kemunculan trailernya beberapa bulan yang lalu.

Jaume Balaguero dan Paco Plaza kembali menakut-nakuti penonton sekali lagi dengan sekuel thriller [REC], yang ceritanya berpusat pada seorang kru berita TV yang terperangkap di sebuah gedung apartemen dikarantina karena penghuninya terinfeksi virus yang membuat mereka menjadi saling bunuh. Aksi ini terus berlanjut saat petugas medis dan tim SWAT yang dilengkapi dengan kamera video yang merekam seluruh kejadian dikirim ke apartemen tersebut untuk mengendalikan situasi. Apa yang terjadi berikutnya akan harus disaksikan sendiri untuk dapat dipercaya.

menariknya dalam sekuel ini, jalan cerita dimulai tepat 15 menit setelah Angela Vidal menghilang dalam kegelapan kamera. sekuel ini pun benar-benar menyajikan sebuah jalan cerita yang cerdas dan brilian untuk sebuah sekuel film horor. jalan cerita yang terus menerus menampilkan kejutan dan semakin membuka tabir misteri penyebaran virus misterius tersebut.

sekuel ini pun tetap mempertahankan kekuatannya, menampilkan horor dan thriller dalam sudut pandang orang pertama. tak lupa juga menambah kengerian dengan teknik kamera infra merah. namun semua itu ditambah kadarnya dibandingkan film pertamanya, menyajikan si mayat berjalan benar-benar tepat di depan mata anda! salah satu yang gue salut adalah teknik sinematografi yang brilian! ada beberapa adegan dengan teknik sinematografi yang 'nyeleneh' tapi justru menjadi sangat artistik.
untuk anda pecinta film horor dan thriller, film ini wajib tonton. tapi awas, anda harus berbekal film [Rec] (well, atau Quarantine, meskipun gue lebih menyarankan untuk nonton [Rec] saja) karena jalan cerita dan setiap detail sangat berhubungan dengan film yang pertama.

rating?
8,5 of 10

The Book of Eli


sobekan tiket bioskop tertanggal 10 April 2010 adalah The Book of Eli. semenjak kemunculannya di trailer sewaktu gue masih di Manila, gue sudah berniat untuk menonton film ini. meskipun gue engga terlalu ngeh tentang cerita dalam film ini tentang apa, tapi kehadiran Denzel Washington sudah cukup menstimulus niat gue untuk menonton film ini.

Setelah sebuah perang yang membuat bumi menjadi dunia tandus tanpa hukum, seorang pejuang tunggal bernama Eli (Denzel Washington) harus bertarung melintasi Amerika demi melindungi sebuah buku suci yang merupakan kunci keselamatan umat manusia. Didorong oleh keyakinannya bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada dirinya, Eli harus terus berjalan untuk menyelamatkan keberadaban manusia yang telah porak-poranda. Hanya satu orang lain yang memahami besarnya kekuasaan di tangan Eli, dan bertekad untuk merampasnya untuk dirinya sendiri: Carnegie (Gary Oldman).

wah, another post-apocalyptic movie. tapi harus gue akui, cerita yang satu ini sangat menarik dan cukup orisinil. siapa yang sangka, akan ada satu buku yang menjadi paling dicari-cari dan diperebutkan oleh umat manusia setelah kehancuran peradaban manusia pasca-perang besar di bumi... bagi kebanyakan penonton film ini, gue bisa duga mereka pasti berpikir, "kenapa bisa sampai ada orang-orang yang mati-matian mempertahankan buku itu? sebegitu besarkah pengaruh buku itu terhadap manusia??" dan jawaban gue, justru cerita itu sangat sangat masuk akal. ketika peradaban manusia hancur dan tidak ada lagi pemerintah dan hukum yang mengatur hidup manusia, setiap individu yang hidup menjadi tidak memiliki tujuan hidup. hal yang dominan bagi setiap individu hanyalah bertahan hidup dengan air, makanan, dan tempat tinggal. dengan dunia yang hancur lebur, manusia kehilangan harapan dan tujuan hidup. dengan masyarakat yang hanya hidup dengan kebutuhan dasar, mereka akan mudah percaya dan mengikuti seseorang yang dapat menyediakan kebutuhan dasar mereka, terlebih lagi yang memberikan harapan dan tujuan hidup; spiritualitas.

kita bisa lihat dalam film ini bahwa kehidupan manusia yang hancur lebur karena perang, seperti kembali ke jaman purba, dimana uang menjadi langka dan perdagangan kembali ke era barter atau pertukaran barang. kita tentu ingat bagaimana nenek moyang kita yang begitu mudah percaya bahwa ada sesuatu yang lebih besar daripada mereka yang mengatur alam semesta; hujan, badai, petir, angin ribut, gempa bumi, dll. pemahaman (dan kehausan) manusia akan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat ini akan sangat dipuaskan jika ada seseorang atau sesuatu yang menyediakan (atau menuliskan) secara konkret tentang spiritualitas ini. dan inilah sebabnya, 'buku suci' ini menjadi senjata yang sangat kuat untuk mempengaruhi masyarakat, menurut penuturan Carnegie, si tokoh antagonis dalam film ini.

dan menurut gue, film ini bukan film tentang Christianity. gue rasa, 'buku suci' ini pun bisa diganti dengan 'buku suci' manapun. menurut gue, karena yang utama adalah bukan jenis bukunya, tapi tentang spiritualitas itu sendiri, bahwa ternyata kebutuhan primer manusia tidak hanya pangan, sandang, dan papan tetapi juga pemahaman akan sesuatu yang lebih besar dan lebih kuat daripada mereka.

selain sarat dengan makna, film ini juga engga lepas dari adegan action yang ada. utnuk para action-junkie, anda akan dipuaskan dengan adegan tembak-menembak yang cukup brilian. tidak hanya pertarungan dengan pistol dan senapan, tapi anda juga akan disuguhkan dengan kemampuan bela diri dari Washington sendiri, yang konon tidak menggunakan pemeran pengganti untuk setiap adegan bela diri.

mengenai karakter Eli, Washington berhasil menyuguhkan sebuah karakter jagoan pengelana yang tidak hanya jago bertarung dan menembak, tetapi juga sangat manusiawi dan cenderung bijak. mungkin sekilas jika kita melihat karakter Eli, kita akan ingat karakter Robert Neville (Will Smith) dalam I Am Legend. tapi menurut gue, Washington berhasil menghidupkan karakter Eli dengan sangat brilian, dan tetap dengan ciri khas Washington sendiri.

segi teknis, film ini cukup brilian dalam menggambarkan kondisi dunia pasca-kehancuran. dengan score-score yang simpel namun sangat mendukung suasana kering dan sepi. gue cukup terpukau dengan sinematografi yang digunakan dalam film ini, terutama pada adegan klimaks tembak menembak antara Eli dengan para penjahat.

bagi yang suka dengan film ini, termasuk gue, pasti akan tergelitik untuk menonton film ini sekali lagi hanya untuk mengecek fakta penting yang baru terungkap di detik terakhir film.

high recommended for watching!

rating?
8,9 of 10

sobekan tiket bioskop tertanggal 7 April 2010 adalah Hachiko: A Dog's Story. awalnya gue kurang tertarik untuk nonton film ini, karena unsur ketertarikan gue akan film bertema anjing memang kurang dan menganggap bahwa film ini akan sama dengan film-film bertema anjing lainnya. tapi setelah mendengar komentar-komentar dari teman-teman yang telah menonton film ini, dan tahu bahwa ternyata cerita dalam film ini berdasarkan kisah nyata, gue menjadi semakin terdorong untuk nonton film ini.

Seorang profesor perguruan tinggi (Richard Gere) memungut seekor anjing yang ditinggalkan dan akhirnya mereka membentuk sebuah ikatan tak terpisahkan. Si anjing tiba di stasuin kereta api menjemput tuannya pada waktu yang sama setiap harinya. Setelah profesor meninggal ditempatnya mengajar, si anjing tetap setia menunggu tuannya di stasiun tersebut selama hampir satu dekade

kebanyakan dari teman-teman gue yang nonton film ini mengaku bahwa mereka menitikkan air mata di penghujung film ini. dan gue cukup kaget juga menemukan diri gue melakukan hal yang sama. cukup jarang yah ada film yang mampu membuat gue menitikkan air mata, gue cukup ingat dengan The Terminal yang juga cukup melelehkan hati.
tapi kisah Hachiko dengan tuannya serta dengan orang-orang di sekitarnya seperti memiliki daya magis yang mampu menghanyutkan penonton ke dalam chemistry di dalam film ini. engga cuma hubungan antara Hachiko dengan si profesor, tapi juga hubungan Hachiko dengan si penjual hotdog, penjaga stasiun, sampai pada para pengguna kereta yang setiap hari selalu bertemu Hachiko dan menyapanya.
harus gue akui, film ini bukan film bertema anjing yang biasa atau sama dengan film-film bertema anjing lainnya. ada sesuatu yang berbeda pada film ini. sesuatu seperti kesetiaan Hachiko, atau perhatian orang-orang di sekitarnya kepadanya. dan perhatian inilah yang menyentuh hati para penonton.

setelah nonton film ini, gue jadi ingin melakukan dua hal: melihat patung Hachiko di Shibuya Station (well, foto juga cukup sih) dan menonton film versi aslinya; Hachiko Monogatari (1987).

sangat disarankan untuk ditonton, terutama bagi pecinta anjing.

rating?
8,5 of 10

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...