sobekan tiket bioskop tertanggal 22 Juli 2009 adalah Public Enemies. tertarik untuk nonton film ini karena film ini memajang aktor watak berbakat, Johny Depp, sebagai pemeran utama. apalagi nama Christian Bale dan Marion Cotillard (pemenang Aktris Terbaik Oscar untuk film La Vie en Rose) disandingkan bersama. wuih!
John Dillinger (Johnny Depp) adalah seorang perampok bank berkharisma yang aksinya membawanya menjadi musuh publik no 1, yang menjadi target J. Edgar Hoover (Billy Crudup) dan agen top FBI Melvin Purvis (Christian Bale). Namun Dillinger justru menjadi pahlawan bagi masyarakat. Pesonanya mendekatkannya pada hampir semua orang, mulai dari kekasihnya Billie (Marion Cotillard) sampai masyarakat luas yang kecewa pada bank-bank yang telah menjerumuskan Amerika ke masa depresi. Pengejaran panjang dan berliku antara FBI dan kawanan Dillinger dibumbui pengkhianatan dan orang-orang bermuka dua, yang pada akhirnya mengakhiri masa jaya Dillinger.
wowh, sebuah film yang luar biasa tentang drama kriminal. mungkin film ini mirip2 dengan American Gangsters dimana Denzel Washington beradu peran Russel Crowe atau film Catch Me If You Can yang mengadu bakat akting antara Leonardo DiCaprio dengan Tom Hanks. tapi kali ini, giliran Johnny Depp yang mengadu pintar mencoba untuk tidak tertangkap oleh Christian Bale yang berperan sebagai agen federal dalam Public Enemies. menariknya, ketiga film ini sama-sama diangkat dari kisah nyata!
sobekan tiket bioskop tertanggal 16 Juli 2009 adalah Harry Potter & The Half-Blood Prince. well, termasuk salah satu film yang ditunggu-tunggu oleh penggemar serial Harry Potter, dan gue bukan salah satunya. seperti menonton seri-seri terdahulunya, gue selalu memasang ekspektasi yang tidak terlalu tinggi sebelum menonton film ini.
Voldemort sedang mengencangkan genggamannya pada Muggles dan dunia penyiihir, sehingga Hogwarts kini tidak lagi menjadi surga yang aman seperti dulu. Harry curiga bahwa, kini bahaya justru berada di dalam puri, namun Dumbledore semakin asyik mempersiapkan pertarungan terakhir yang sudah semakin dekat. Bersama-sama, mereka mencari kunci untuk membuka pertahanan Voldemort. Pada akhirnya, Dumbledore mengajak teman lamanya, Professor Horace Slughorn, yang dipercaya memegang informasi penting.
wah, harus komen apa yah. yang pasti sih posisi gue adalah sebagai penonton yang belum baca bukunya, jadi ga adil rasanya kalau harus gue bandingkan dengan bukunya. tapi sedikit info aja bahwa banyak pembaca bukunya yang kecewa akan film keenam dari septologi Harry Potter ini.
kalau sebagai sebuah film, well kesan pertama yang gue dapatkan setelah gue keluar dari gedung bioskop adalah, dimana klimaksnya yah? haha. alias film ini cenderung mengalir datar tanpa ketegangan yang berarti. setiap aksi yang ditampilkan, selalu diakhiri dengan cepat kilat. sampe sekarang gue masih mikir, adegan mana yah yang pantas disebut sebagai klimaks?
tapi dari segi cerita, side story yang ditampilkan cukup mendukung plot utama. dan menurut gue entah kenapa porsi drama lebih besar ketimbang porsi action. tetap dengan lelucon-lelucon yang menghibur.
well, film ini tetap menjadi film 153 menit yang mengasyikkan untuk ditonton. terutama bagi penggemar Emma Watson, seperti gue ;p
rating?
7,8 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 7 Juli 2009 adalah King. mulai tertarik dengan film ini setelah nonton Garuda di Dadaku. pas baca sinopsisnya, sempet heran sih kok ada yah dua film yang mirip, tentang harapan anak kecil dalam sebuah bidang olahraga, dan rilis dalam waktu yang hampir bersamaan. tapi yawda lah, gue harap film ini sebagus Garuda di Dadaku.
Ayah Guntur adalah seorang komentator pertandingan bulutangkis antar kampung yang juga bekerja sebagai pengumpul bulu angsa, bahan untuk pembuatan shuttlecock. Dia sangat mencintai bulutangkis dan dia menularkan semangat dan kecintaannya itu pada Guntur, walaupun dia sendiri tidak bisa menjadi seorang juara bulutangkis. Mendengar cerita ayahnya tentang Liem Swie King, sang idola, Guntur bertekad untuk dapat menjadi juara dunia. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada dihadapannya, sebagai sahabat setianya Raden pun selalu berusaha membantu Guntur, walaupun kadang bantuan Raden tersebut justru seringkali menyusahkannya. Namun dengan semangat yang tinggi tanpa mengenal lelah, dan pengorbanan berat yang harus dilakukan, Guntur tak henti-hentinya berjuang untuk mendapatkan beasiswa bulutangkis dan meraih cita-citanya menjadi juara dunia bulutangkis kebanggaan Indonesia dan kebanggaan keluarga seperti Liem Swie King - sang idola!
well, dari segi cerita sih oke. memberikan secercah harapan akan orang kecil untuk turut sukses menyandang prestasi setinggi-tingginya. from no one to someone.
tapi kok pola ceritanya lumayan mirip ya sama Garuda di Dadaku. dari si pemain utama yang ngebet sama bidang olahraga, dibantu oleh teman dekatnya untuk berlatih dan menggapai cita-cita, mendapat rintangan dari keluarga, di tengah cerita bertemu satu karakter yang beda jenis kelamin sebagai "pemanis", lalu terdapat konflik antara karakter utama dan si teman dekat, dan ditutup oleh bagaimana si karakter utama meraih apa yang ia cita-citakan, sekaligus membenahi hubungannya dengan orang-orang di sekitarnya, termasuk teman dekatnya.
gue ga habis pikir, kenapa bisa latah gitu yah? latah dari Laskar Pelangi kah? apa karena Ary Sihasale juga ikutan maen di Garuda di Dadaku dan ia jadi terinspirasi? tapi lepas dari kemiripan pola itu, tampaknya Ary masih harus banyak belajar kepada Ifa Irfansyah.
film ini cukup datar dan flat. seperti garis lurus dari titik satu ke titik lainnya. kalaupun ada tensi, itupun hanya dipertegas oleh sinematografi dan sound effect, tapi ceritanya flat. akting ketiga anak kecil pun masih terlalu hijau untuk disandingkan dengan nama-nama seperti Surya Saputra, Mamiek Prakoso, dan Wulan Guritno.
tapi yang patut diacungi jempol adalah bagaimana Ary mampu memotret keindahan alam dari bumi Banyuwangi dan Kudus. penonton dibuat tersadar bahwa ternyata Indonesia memang banyak memiliki daerah-daerah yang eksotis.
rating?
6,8 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 2 Juli 2009 adalah Ice Age 3 : Dawn of the Dinosaurs. ini adalah salah satu film yang gue tunggu-tunggu di deretan summer movies 2009. butuh tiga tahun untuk menunggu sekuel keduanya, semenjak The Meltdown yang muncul di 2006 dan Ice Age di 2002. gue memang penggemar Ice Age, selain karena detail animasinya yang wuah!, tapi juga karena kocaknya setiap karakter yang hadir di film ini, tak terkecuali si Scrat yang setiap aksinya selalu ditunggu-tunggu penonton.
Scrat masih saja memburu bebijian tercintanya, ketika menemukan kisah cinta yang mungkin terjadi antara dirinya dengan tupai betina bergigi bernama Scratte. Manny & Ellie setelah menjadi sepasang kekasih kini tengah menantikan kehadiran bayi mereka. Yang justru membuat Manny senewen dan ingin memastikan segala sesuatunya berjalan sempurna saat si kecil lahir. Diego jenuh diperlakukan seperti kucing rumahan dan menemukan dirinya terlalu santai. Sid mulai mengharap bisa membentuk keluarganya sendiri, lalu mencuri beberapa telur dinosaurus yg akhirnya menyeretnya ke dunia bawah tanah yang aneh dimana teman-temannya harus menyelamatkannya. Ketika menghadapi dinosaurus dan aneka bahaya di sekelilingnya, mereka bertemu dengan seekor musang bermata satu bernama Buck yang gemar berburu dinosaurus.
dan wuah!! penonton tetap dimanjakan dengan detail animasi yang sepertinya setiap tahun selalu berkembang teknologinya. kali ini ada upgrade dengan menghadirkan detail dari aliran lava dan ledakan lahar yang mencuat ke angkasa, setelah detail bulu dari setiap karakter, detail salju dan air yang sudah kita nikmati dari film pertama dan keduanya.
dari segi ceritanya juga oke banget. tampaknya si pembuat film sadar bahwa penonton filmnya bukan hanya dari kalangan anak-anak, tapi juga dari kalangan dewasa, maka mereka pun tak gentar memasukkan joke-joke cerdas yang minimal bisa membuat penonton tersenyum simpul. dan tentunya joke slapstick yang tetap dipertahankan. berbagai nilai-nilai kehidupan pun disusupkan dengan baik dalam setiap adegan di film ini. kesetiakawanan, kekeluargaan, menjadi orangtua yang baik, adalah salah tiga dari beberapa makna yang bisa dipetik dari film ini.
dari segi karakter, si kembar musang (lupa namanya) tetap memukau penampilannya dengan mendapat jatah porsi yang lebih banyak. dan bagian favorit gue adalah munculnya karakter baru si Buck, musang bermata satu yang pemburu dinosaurus yang disuarakan oleh aktor komedi asal Inggris, Simon Pegg (Star Trek, Shaun of the Dead, Hot Fuzz). dengan aksen Inggrisnya yang kental dan dengan jokesnya yang bener-bener bisa bikin ngakak, tampaknya dia menjadi salah satu aktor favorit gue. sayang "kembarannya", Nick Frost, ga muncul dalam film ini. haha!
so overall, buat yang mencari hiburan dan kepengen ketawa ngakak bareng-bareng, this movie is totally high recommended!
rating?
8,5 of 10
sobekan tiket bioskop tertanggal 29 Juni 2009 adalah Ketika Cinta Bertasbih. well, jujur gue memang ga terlalu tertarik untuk nonton film ini. gue juga engga nonton Ayat-Ayat Cinta. tapi ya daripada penasaran terus tentang ngehitsnya film ini. ayo aja dah.
diangkat dari novel mega best seller Asia Tenggara, karya penulis bertangan dingin Habiburrahman El Shirazy. Film yang menceritakan kehidupan tokoh utamanya Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Al-Azhar University, Kairo. Cerita yang bisa menjadi inspirasi bagi kita, ketika melihat bagaimana kerja keras sang tokoh yang menuntut ilmu sekaligus berjuang menghidupi ibu dan adik-adiknya di kampung. Cerita yang juga bisa menuntun kita, ketika melihat usaha dan perjuangan Khairul Azzam dalam menemukan jodohnya dengan tetap selalu teguh berpedoman kepada ajaran agama.
hm, ga jelek-jelek amad sih. setidaknya gue udah pasang ancang-ancang dengan tidak memunculkan ekspektasi apapun sebelum nonton film ini. dari segi cerita memang bagus, secara diangkat dari novel hits juga sih. dan rasanya gue mulai menangkap maksud dari si penulis dengan menelurkan cerita seperti ini.
tapi sayang, penggarapan filmnya kurang oke. editingnya bikin ga nyaman penonton dengan terlalu sering berpindah kamera. score dan soundtrack yang lebay dan sangat engga masuk ke dalam adegan. dan juga akting dari pemain yang sangat kaku. oh my goodness, gue malah ketawa ngakak loh pas ada adegan si pemeran utama nangis2 bombay. come on, lebay banget!! apalagi dengan sound effect yang ala dangdut ketika si cowo bertemu pandang dengan si cewe. IH!
dan yang paling parah menurut gue adalah film ini engga fokus sama sekali. gue sampe bingung ini film mau cerita apa sih. di seperempat film awal, cerita cukup konsisten dengan kehidupan Azzam, sebagai karakter utama, tetapi selanjutnya, malah jadi merembet ke kehidupan di sekitar Azzam. sepertinya penulis skenario dan screenplay terlalu takut untuk tidak memasukkan beberapa side story yang ada dalam novel ke dalam film, jadinya dimasukkin semua deh yang malah membuat film ini jadi ga fokus.
satu lagi poin gue, engga ngerti maksud si pembuat film apakah berniat membuat film dengan nuansa jadul atau engga, karena dari lima menit pertama gue udah bisa nebak, okey pembuatan film ini sengaja dibikin rada kaya film jadul model Warkop dengan sound dan tone warna ala 80-an. apalagi dengan blue screen untuk adegan malam hari outdoor yang menurut gue mengganggu banget. tapi kemudian gue menemukan ada gadget Macbook, para karakter sudah mengenal internet. hlo? gimana sih? kalo settingnya skarang, knapa musti ada bluescreen segala donk? low budget ya? ;p
menurut gue, gue telah membayar sebuah tiket bioskop untuk menonton sebuah film sinetron di layar lebar selama dua jam. that's why knapa gue selalu menghindari film2 bioskop yang diproduksi oleh SinemArt.
tapi yah at least, gue dapet beberapa meaning sih, terlepas dari segi teknik film yang menurut gue perlu ditingkatkan lagi. sayang sekali, dengan cerita yang menawan, pembuatannya kurang rapih. well boleh aja sih dicap Asli Mesir. ya mungkin itu satu-satunya keunggulan di film ini.
rating?
4,5 of 10
