Flyboys

Sobekan Tiket Bioskop untuk tanggal 20 Januari 2007 adalah Flyboys.

Tahun 1914, “Perang Terhebat” – PD I – dimulai di Eropa. Tahun 1917, kekuatan Angkatan Bersenjata Perancis, Inggris, Italia dan negara lainnya bersatu melawan Jerman. Beberapa pemuda Amerika tidak setuju dengan peperangan. Mereka bergabung dengan sukarelawan lainnya di Perancis; sebagian di infantry, sebagian di divisi Ambulance. Beberapa dari mereka mempunyai pilihan lain: menjadi pilot. Dimana pada saat itu pesawat terbang baru saja diciptakan, dan langsung beroperasi menjadi sebuah mesin perang. Tim pertama, skadron terdiri atas 38 orang – dikenal sebagai Lafayette Escadrille. Inilah kisah mereka.
Terpaksa meninggalkan keluarganya, Blaine Rawlings menemukan masa depannya menjadi seorang penerbang muda di Perancis. Stasiun KA dipedesaan Nebraska, William Jensen berjanji untuk membuat keluarganya bangga. Di New York, Briggs Lowry yang manja pergi dengan kapal penumpang mewah Atlantic. Sementara itu, di Perancis, petinju kulit hitam, Eugene Skinner bersumpah untuk menbayar hutangnya dinegara rasial tersebut. Bersama-sama, putra-putra Amerika tiba di lapangan udara Perancis, berhasrat untuk belajar terbang. Mereka tidak menyadari bahwa mereka baru saja memulai petualangan yang luar biasa, kisah cinta dan menjadi pilot tempur dunia pertama.

gue merasa terlalu tua untuk menonton film ini. inti dari plot cerita terlalu simpel. pesawat terbang yang baru diciptakan, langsung menjadi sebuah mesin perang, lalu sebuah skuadron pilot temput asal Amerika diberi tugas untuk membombardir gudang amunisi milik Jerman. selesai. tetapi durasi film ini adalah 2 jam 24 menit. maka sang penulis skenario pun tampak sengaja menyusupkan cerita-cerita yang tampaknya tidak begitu penting bagi keseluruhan plot cerita. bahkan sampai kisah romantis yang terkesan terlalu didramatisir.

intinya adalah film ini estede. kekuatannya hanya satu: pesawat terbang. yup, pertempuran pesawat terbang jaman jadul yang sama sekali engga canggih. tapi dari segi sinematografi lumayan lah, gerak-gerik sang pesawat masih dapat diikuti oleh kamera dan kita disuguhkan gaya perang yang berbeda (ingat, jaman jadul). jadi film ini hanya unjuk keren-kerenan, khususnya di pesawat terbangnya. sisanya, rada ngebosenin. dan film ini cukup membuat gue sring ngeliat jam, ga sabar kapan selesainya film ini.

rating?
5
of 10

Blood Diamond

Sobekan Tiket Bioskop gue untuk tanggal 13 Januari 2006 adalah Blood Diamond. salah satu film terbarunya Leonardo DiCaprio. akhir-akhir ini gue memang selalu menunggu film2nya Leo, karena setelah menonton Catch Me If You Can, gue menyadari bahwa Leo selalu serius dan total dalam memainkan peran dalam sebuah film. selanjutnya tinggal sebut saja, The Aviator, The Departed, dan trakir ini, Blood Diamond.

film ini mengambil latar perang saudara pada tahun 1994 di Sierra Leone. bercerita tentang Danny Archer (Leonardo DiCaprio), seorang tentara bayaran Afrika Selatan, dan Solomon Vandy (Djimon Hounsou), seorang nelayan. kedua orang tersebut adalah orang Afrika, tetapi sejarah mereka berbeda satu sama lain, sampai takdir mereka untuk bersatu dalam pencarian sebuah berlian berwarna pink yang langka yang dapat mengubah hidup mereka. sewaktu di penjara karena penyelundupan berlian, Archer mengetahui bahwa Solomon, yang dipisahkan dari keluarga dan dipaksa untuk bekerja di sebuah tambang berlian, telah menemukan dan menyembunyikan berlian langka. dengan bantuan Maddy Bowen (Jennifer Connelly), seorang jurnalis Amerika yang idealis, Archer dan Solomon berpetualang melewati kamp pemberontak. sebuah perjalanan yang dapat menyelamatkan keluarga Solomon dan memberikan arti kehidupan baru bagi Archer.

menonton film ini mengingatkan gue akan film Hotel Rwanda. tentang perang saudara juga, tapi Blood Diamond lebih menekankan kepada perdagangan berlian ilegal yang berasal dari daerah konflik. yup, selain Liberia, Sierra Leone adalah negara penghasil berlian terbesar di Afrika dan termasuk salah satu negara yang berkonflik karena perang saudara. Blood Diamond sukses mengangkat dan menampilkan tema perang saudara dan penyelundupan berlian ilegal. bagaimana di Sierra Leone, sesama kulit hitam saling membunuh dengan sadis, sementara di negara-negara Barat, para konsumen menghabiskan uang untuk membeli berlian-berlian, tanpa tahu berlian tersebut berasal dari negara konflik. bahwa dengan para konsumen membeli berlian-berlian tersebut, maka itu berarti menambah darah di tanah Afrika. selain itu film ini juga sekilas menyampaikan pesan bahwa masih ada 200ribu tentara anak-anak di Afrika, yang digunakan oleh pemberontak untuk menghabisi musuh-musuhnya.

ini adalah film dengan kedua karakter yang tampil dengan sangat mengesankan. DiCaprio dan Hounsou sungguh berakting luar biasa dalam film ini. DiCaprio memerankan tokoh Danny Archer, asal Rhodesian (Zimbabwe) dan tampil dengan logat khas Afrika Selatan. dan Hounsou, seorang nelayan yang terpisah dari keluarganya dan berusaha untuk mencari anaknya yang dijadikan tentara RUF, mengalami dilema saat satu2nya orang yang dapat membantunya adalah Danny Archer, yang bekerja sebagai penyelundup berlian ilegal yang tertarik pada berlian temuan Solomon. DiCaprio yang luar biasa dalam logat AfSelnya, dan Hounsou yang luar biasa dalam kedalaman emosinya.

BRAVO untuk Blood Diamond!!

rating?
9 of 10

An American Haunting

Sobekan Tiket Bioskop untuk tanggal 12 Januari 2006 adalah An American Haunting.

Antara tahun 1818 dan 1820, keluarga Bell dari Red River, Tennessee dihantui oleh sosok hantu yang mengintai putri remaja mereka, Betsy (Rachel Hurd-Wood). Sebagai orang tua (Sissy Spacek, Donald Sutherland) dan rasa ketidaktahuan, mereka mencoba menemukan cara untuk mengusir hantu dari rumah tersebut, keadaan ternyata semakin parah, membawa mereka kepada kisah menyedihkan.

film ini diangkat dari kisah nyata. dan di Amerika sampai sekarang, kisah ini masih menjadi kasus misteri yang tidak terpecahkan.

okeh cukup. tampaknya sang sutradara kurang kreatip dalam mengemas kisah nyata ini kedalam bentuk sebuah film. kenapa? karena film ini cenderung membosankan dan membuat penonton menjadi resah karena pintu keluar serasa begitu dekat. yup. jalan cerita yang bertele-tele. adegan-adegan yang panjang. adegan teror si hantu yang berulang-ulang dan cenderung berpola. membosankan dan mudah ditebak.

satu-satunya andalan dari film ini adalah sound effectnya yang cukup lumayan. tetapi hanya itu saja. malah terkesan sosok hantu hanya ditampilkan lewat suara. tidak lebih. lalu ada satu-dua adegan yang menggunakan sinematografi yang cukup menarik. itu saja. tidak lebih.

satu-satunya hal yang membuat gue bertahan untuk tetap menonton sampai penghujung film adalah kehadiran Rachel Hurd-Wood yang cantik sebagai pemeran utama, Betsy Bell. ternyata dia yang jadi Wendy Darling di Peter Pan (2003). pantesan pernah liat dimana gituh. cakep pisan euy.

rating?
4 of 10

Babel

Sobekan Tiket Bioskop untuk tanggal 8 Januari 2007 adalah Babel. akhirnya bisa nonton ini juga setelah menunggu sekian lama untuk keluar di 21. untuk informasi, Babel ini terpilih menjadi opening film untuk Jiffest 2006 kemarin. dan gue menahan diri untuk tidak menonton Babel di Jiffest karena gue tau pasti Babel akan keluar di 21. ternyata benar.

cerita dimulai saat kedua anak peternak di Maroko sedang mencoba senjata yang baru dibeli oleh ayahnya. ternyata peluru tersebut malah mengenai Susan Parker (Cate Blanchett), istri dari Richard Parker (Brad Pitt). peluru tersebut pun membawa masalah yang melibatkan tiga benua di dunia.

karena jauh dari rumah sakit, terpaksa Susan hanya dirawat di sebuah desa di Maroko menunggu ambulans datang. tetapi hubungan bilateral yang memburuk karena Amerika menganggap serangan itu adalah serangan teroris dari Maroko, membuat ambulans yang dinanti tak kunjung datang. sementara itu hubungan kedua suami istri pun teruji.

anak yang menembak peluru nyasar itu pun tak luput dari masalah. saat polisi mencari mereka, hubungan diantara keluarga mereka pun semakin rusak.
sementara itu di benua Amerika, pengasuh kedua anak dari Susan dan Richard Parker ternyata harus menghadiri pernikahan anaknya di Meksiko. maka ia pun nekat membawa kedua anak tersebut melintasi perbatasan. saat pulang kembali ke Amerika, ia pun mendapat masalah.
ternyata peluru nyasar tersebut pun berdampak pada sebuah keluarga di Jepang. Chieko, seorang gadis bisu-tuli yang mempunyai hubungan yang tidak baik dengan ayahnya pasca-kematian ibunya. ternyata ayah dari Chieko adalah pemilik asli dari senjata yang digunakan oleh anak di Maroko tersebut.

overall, film ini bagus...banget...ga salah kalo JiFFest memilih film ini sebagai opening di JiFFest 2006 kemarin...film ini benar-benar mencerminkan keadaan yang sedang terjadi di depan mata kita, yang terkadang kita tidak menyadarinya.

berdasarkan filosofi menara Babel, dimana karena menara Babel manusia menjadi berbicara dengan bahasa yang berbeda-beda sehingga tidak mengerti satu sama lain. tema itu yang coba diangkat oleh sang sutradara, Alejandro Gonzales Inarritu. tetapi bukan masalah perbedaan bahasanya yang diangkat melainkan masalah komunikasi, walaupun dalam bahasa yang sama.
bagaimana karakter-karakter, walaupun berbicara dalam bahasa yang sama, tetap tidak saling mengerti kebutuhan satu sama lain.
bagaimana pasangan suami istri yang tidak saling mengerti satu sama lain karena mereka tidak mau terbuka dan mereka begitu menghindari konfrontasi.
pada kisah di perbatasan Meksiko, bagaimana pihak AS yang membuat prasangka negatif terhadap (atas dasar rasis) si pengasuh.
pada kisah keluarga di Maroko, terlihat bagaimana kedua kakak beradik yang selalu bersaing satu sama lain. selain itu bagaimana pihak Maroko yang mencari kambing hitam atas tragedi penembakan tersebut.
lalu pada kisah di Jepang, bagaimana buruknya komunikasi antara Chieko dan ayahnya. dan juga terhalangnya komunikasi antara Chieko dengan dunianya semenjak ia menjadi bisu-tuli.

inti dari film ini adalah bukan dengan mempelajari bahasa-bahasa asing di dunia agar kita bisa saling mengerti. tetapi bagaimana kita mendengarkan orang lain, saling mengerti satu sama lain untuk menghindari prasangka-prasangka buruk atau tuduhan-tuduhan.

yup, film ini cukup dalem. dan penuh dengan makna yang bisa digali. biasa stelah keluar dari bioskop, gue langsung mengerti makna dari film yang telah diputar. tetapi khusus Babel ini, gue harus berpikir seharian dulu untuk mencari makna yang tersembunyi tersebut. walaupun harus baca-baca imdb dulu buat dapet pencerahan.

dari segi teknis, film ini memang ga perlu visual efek yang canggih karena memang bukan hal itu yang ditonjolkan. kedalaman karakter pun tergali cukup dalam lewat para pemeran-pemerannya. jalan cerita yang relatif mudah untuk diikuti membuat film berdurasi 2 jam 22 menit ini tidak terasa. hati-hati dalam menyimak setiap cerita yang ada karena keempat cerita tersebut tidak berlangsung dalam waktu yang sama.

adegan favorit gue adalah, di awal film ketika si pengasuh ketika mengantarkan kedua anak tersebut untuk tidur, ia berbicara dalam bahasa Spanish, dan kedua anak mengerti dengan menjawabnya dalam bahasa Inggris. luar biasa.

pokoke film ini gue canangkan menjadi HIGHLY RECOMMENDED for watching...

rating?
9.5 of 10

The Illusionist

Sobekan Tiket Bioskop pertama di tahun 2007 ini adalah The Illusionist...

Eisenheim (Edward Norton) adalah seorang pesulap besar dengan trik-triknya yang mengagumkan. dengan sekejap ia pun mendapat banyak pendukung. di suatu pertunjukannya, ia bertemu dengan kekasih masa kecilnya, Sophie von Teschen (Jessica Biel), yang ternyata sudah menjadi tunangan Pangeran Leopold (Rufus Sewell). Pangeran Leopold pun menugaskan Kepala Inspektur Uhl (Paul Giamatti) untuk menghentikan pertunjukkan Eisenheim karena popularitasnya yang semakin naik. Sementara Eisenheim mempersiapkan pertunjukan terakhirnya, sebuah ilusi yang luar biasa untuk mendapatkan kekasihnya kembali.

film ini so JiFFest...dalam arti, tidak banyak dialog-dialog yang tidak penting. hampir semua dialognya mempunyai makna yang berkaitan dengan jalan cerita. hati-hati dalam mencerna setiap dialog yang terucapkan karena dialog tersebut adalah sebagai kunci di akhir film. dan tidak seperti kebanyakan film-film Hollywood lainnya yang membuka film mereka dengan adegan "introduksi" yang kurang penting, The Illusionist langsung to the point sementara para penonton baru mencari posisi pewe di tempat duduk mereka.

sekilas film ini memang tampak seperti The Prestige. sama-sama bercerita tentang pesulap dan mempertontonkan trik-trik yang menarik. tetapi film ini mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan film-film sulap lainnya.

rating:
8 of 10

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...